"Lino tampak sengaja menunjukan kedekatan dengan penguasa. Model komunikasi seperti ini cukup membuktikan bahwa dia mau pamer kedekatan dengan penguasa," kata Lely saat diskusi di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (12/9).
Lely berpendapat, Sofyan seharusnya mendapatkan beban psikologis karena berkomunikasi lewat telepon oleh Lino di depan awak media. Apalagi Sofyan waktu itu tidak tahu bahwa dirinya menelepon di depan kamera media.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diskusi di publik kemudian bergulir ke arah Komisaris Jenderal Budi Waseso yang tiba-tiba dipindahkan ke Badan Narkotika Nasional (BNN). Lely menilai saat ini muncul opini bahwa perpindahan Budi ke BNN karena aksi Lino yang tidak terima kantornya digeledah.
Sofyan membenarkan telah menelepon Lino saat Kantor Pelindo II digeledah. “Saya yang telepon Pak Lino, karena saya empati dan ingin tahu apa yang terjadi,” kata Sofyan memberikan alasan.
Namun Sofyan mengaku tidak tahu sama sekali kalau pembicaraan telepon keduanya tersebut juga didengarkan langsung oleh banyak wartawan kala itu. “Cuma saya tidak tahu bahwa telepon saya dibuka kepada wartawan,” ujarnya.
Kepada Sofyan Djalil, Lino menjelaskan bahwa polisi mencari dokumen terkait 10 crane yang tak berfungsi sehingga memengaruhi proses dwelling time alias waktu bongkar muat di pelabuhan.
Lino tidak hanya berhubungan dengan Sofyan Djalil, dia juga sempat menghubungi dua menteri lainnya. Saat kantornya digeledah, Lino sempat menghubungi Menteri Politik, Hukum, dan Hak Asasi Manusia, Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri BUMN Rini Sumarno. (rdk)