Juru Bicara OPM: Penyanderaan WNI Dipimpin Lucas Bomay

Suriyanto, CNN Indonesia | Senin, 14/09/2015 13:50 WIB
Juru Bicara OPM: Penyanderaan WNI Dipimpin Lucas Bomay Ilustrasi. (Warrick Page/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Juru Bicara Organisasi Papua Merdeka Saul Bomay menyebut penyanderaan terhadap dua warga negara Indonesia di Papua Nugini dipimpin oleh Lucas Bomay dari Dewan Komando Revolusi Militer OPM Republik Papua Barat. Penyanderaan, kata Saul, bukan dikomandoi Kelompok Jeffrey seperti yang sebelumnya disebutkan oleh Tentara Nasional Indonesia.

Menurut Saul, berbeda dengan Lucas yang memimpin operasi di lapangan, Jeffrey lebih banyak bekerja di belakang meja atau belakang layar.

Jeffrey, kata Saul, merupakan Juru Runding OPM yang kerap bekerja di luar negeri. "Jeffrey lebih pada diplomasi internasional," ujar Saul.


Menurut dia, penyanderaan dilakukan agar pemerintah mau menerima tawaran OPM untuk berunding dalam satu meja. Perundingan diminta dilakukan di luar negeri dengan dimediasi oleh negara ketiga yang independen. (Baca juga: Sandera Dua Warga, OPM Tuntut Perundingan)

Materi perundingan yang ingin dibicarakan OPM adalah soal solusi pemerintah untuk berbagai masalah yang ada di Papua.

Sebelumnya, Kepala Pusat Penerangan TNI Mayor Jenderal Endang Sodik menyebut pelaku penyanderaan adalah OPM Kelompok Jeffrey. Kelompok ini jadi buruan polisi sejak 2012 karena terlibat dalam penyerangan Polsek Abepura.

OPM kini menyandera dua WNI dan ingin dua orang itu ditukar dengan pembebasan rekan mereka yang ditahan di Polres Keerom karena terlibat kasus ganja.

Dua WNI yang diculik itu bernama Sudirman dan Badar. Keduanya penebang kayu yang bekerja pada perusahaan penebangan kayu di Skofro, Distrik Keerom, Papua, yang berbatasan dengan Papua Nugini. (Baca juga: TNI: Kelompok Penyandera WNI Pernah Serang Polsek Abepura)

Keduanya diculik dan dibawa ke wilayah negara tetangga Indonesia, PNG. Penyandera memberi waktu 72 jam sejak 11 September lalu. Saat ini pemerintah terus berkoordinasi dengan Papua Nugini. Tentara setempat direncanakan akan menggelar operasi pembebasan sandera esok hari.

TNI berharap proses negosiasi dikedepankan dan kekerasan diminimalisasi demi menjamin keselamatan dua sandera. (sur/sur)