Setelah dibebaskan kemarin, Sudirman dan Badar mendapat perawatan intensif di Rumah Sakit Bhayangkara, Jayapura, Papua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami dibawa ke perbatasan PNG (Papua Nugini)," kata Sudirman, Sabtu (19/9) di RS Bhayangkara. Jayapura. (Baca juga:Menlu: Penyandera Berafiliasi dengan Kelompok Pengkritik HAM)
Badar mengaku tak tahu kejadian yang menimpa rekannya itu. Namun saat itu ia mendengar suara letusan dari tempat Kuba bekerja. Belakangan diketahui Kuba ditembak oleh kelompok tersebut.
SIMAK FOKUS: Dua Warga Tersandera di Perbatasan Papua
Kelompok bersenjata itu kemudian membawa Sudirman dan Badar berpindah tempat. Mereka berjalan kaki sejak pagi sekitar pukul 09.00 waktu setempat dan baru berhenti sekitar pukul 20.00. "Kami lewat hutan Victoria," kata Sudirman.
Sementara Badar mengaku selama disandera kelompok ini, mereka kerap disiksa. "Kami ditelanjangi, ditendang, dipukul pakai senapan di perut," katanya. (Baca juga: Aktivis Bantah Penyandera Berafiliasi dengan Pengkritik HAM)
Para penyandera menurut Badar tak menyebutkan nama mereka. Yang ia tahu, dari ada lebih belasan orang dalam kelompok ini. Semua membawa senjata api, panah, dan parang.
Selama sembilan hari mereka disandera oleh kelompok ini. Keduanya mengaku bertahan hidup karena diberi makan ubi yang dibakar atau direbus oleh penyandera.
Selama penyanderaan, mereka kerap berpindah tempat untuk menghindari kejaran tentara PNG.
Mereka mengaku dibebaskan Kamis (17/9) sore lalu oleh kelompok ini. Keduanya diserahkan pada tentara PNG di sebuah sungai dekat rumah kepala desa setempat. (sur/sur)