Karenanya, Sutopo mengatakan antisipasi karhutla untuk ke depannya harus dilakukan sedini mungkin. "Pencegahan lebih efektif dibandingkan dengan pemadaman," kata Sutopo saat konferensi pers di BNPB, Jakarta, Rabu (23/9).
Lebih lanjut, Sutopo mengatakan karhutla saat ini masih terjadi di lapangan. Api lama yang sudah padam dikabarkan kembali hidup pada daerah lahan gambut. Cuaca kering karena kemarau serta air yang terbatas menjadi beberapa faktor sulitnya pemadaman api.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan data terkini, jumlah titik api di Sumatera telah mencapai 1.025 titik, di antaranya Bengkulu (5), Jambi (60), Kep. Babel (123), Kep. Riau (1), Lampung (36), Riau (9), dan Sumatera Selatan (791).
"BNPB menyediakan dana Rp 385 miliar untuk mendukung penanganan karhutla hingga September 2015. Namun, BNPB akan menambah anggaran jika diperlukan yaitu dari Dana Siap Pakai BNPB," katanya.
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) sebelumnya memberikan sanksi berupa pembekuan izin kepada empat perusahaan yang areal dan lahannya mengalami kebakaran.
Sekretaris Jenderal Kementerian LHK, Bambang Hendroyono mengungkapkan, hasil pemeriksaan dari Satuan Tugas Khusus Pengawasan Kementerian LHK menunjukan empat perusahaan itu tersebar di dua provinsi di Pulau Sumatera.
"Kami telah melakukan kegiatan pengawasan dengan menurunkan empat tim untuk mengevaluasi empat perusahaaan, dua di Provinsi Riau dan dua di Provinsi Sumatera Selatan," ujar Bambang di Kantor Kementerian LHK, Jakarta, Selasa (22/9). (meg)