Demikian dikatakan Jane Luyke, istri mendiang Oey Hay Djoen -anggota Sekretariat Pusat Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang pernah ditahan di Pulau Buru lantaran tuduhan terlibat Gerakan 30 September 1965.
Kala geger tragedi 1965 berakhir, banyak orang kesulitan mencari anggota keluarga mereka. Saking sulitnya, hal yang di luar akal sehat pun ditempuh. Termasuk bertanya kepada jelangkung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berawal dari permainan iseng empat temannya sekitar satu tahun setelah tragedi itu terjadi. "Diajak main jelangkung buat cari duit, awalnya tanya nomor (kode buntut) ke jelangkung," kata Jane kepada CNN Indonesia.
Teman Jane yang turut memegangi jelangkung saat itu iseng bertanya, "Saya punya kawan yang hilang, bisa tolong dicarikan, namanya Nyoto" kata Jane. Nyoto adalah Wakil Ketua Comite Central II Partai Komunis Indonesia yang jadi salah satu pendiri Lekra.
Tak lama jelangkung tersebut kembali bergerak, dan menuliskan nama tanda tangan Nyoto di kertas yang disediakan.
Teman-teman Jane tak percaya begitu saja. Mereka kemudian bertanya pada jelangkung tersebut nama alias milik Nyoto atau nama pena yang kerap dipakai saat membuat karya sastra. "Ditulisnya oleh jelangkung itu Iramani," ujar Jane. Sebuah kebetulan, nama pena Nyoto kala itu memang Iramani.
Teman Jane yang bermain jelangkung sontak keluar dan menangis menemui Jane. Mereka mengadukan apa yang dialaminya. Jane mengaku kala itu dirinya antara percaya dan tidak. Namun saat itu keluarga memang sudah tak tahu harus kemana lagi mencari Nyoto.
Jane sendiri sesuai amanah suaminya kerap memberikan bantuan untuk keluarga Nyoto.
Lihat juga:Cerita Soal Diskriminasi dan Cap PKI |
Tentang Nyoto
Nyoto yang diaku-aku jelangkung adalah orang ketiga terpenting di PKI saat peritiwa G30S pecah tahun 1965. Ia menduduki jabatan Wakil Ketua II Comite Central PKI. Di atasnya ada nama Lukman sebagai Wakil Ketua I Comite Central PKI dan Dipa Nusantara Aidit sebagai Ketua PKI.
Nyoto disebut sangat dekat dengan Presiden Soekarno. Ia diangkat sebagai Menteri Negara sebagai wakil dari PKI.
Nyoto dijemput oleh sekelompok orang dan hilang, ada yang menyebut pada Desember 1965 ada pula yang menyebut tahun 1966. Sejak dijemput saat perjalan pulang itu, Nyoto tak lagi ditemukan.
Tak hanya Nyoto, militer saat itu juga menangkap isteri dan anak-anak Nyoto. Isterinya, Sutarni dan tujuh anaknya juga dipenjara meski tak tahu menahu soal kegiatan politik Nyoto. (sur/sip)