Di Pulau Buru, Pram menempati Unit III, unit pertama yang dibangun tentara untuk para tapol yang dituduh terlibat Gerakan 30 September. Unit ini merupakan unit khusus yang disediakan bagi para tapol yang susah diatur. Pram mendapat nomor baju 007. Teman akrab Pram yang juga anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) Oey Hay Djoen mendapat nomor baju 001. Sama seperti Pram, Oey juga ditempatkan di Unit III.
Tapol yang juga menghuni Unit III adalah Tumiso, orang yang juga dikenal dekat dengan Pram. Menurut Tumiso, tiga tahun pertama di Buru, Pram sempat ikut bekerja sebagai kuli. Ia ikut membangun jalan penghubung antarunit, sama seperti tapol lainnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Tumiso, Si Penyelundup Naskah Pramoedya |
Untuk pulpennya, Pram meminta pada petugas rohaniawan Katholik yang secara berkala berkunjung ke Buru untuk memberikan bimbingan. Pada 1973, Pram mendapat bantuan mesin tik lengkap dengan kertas dan pita tiknya. Pemerintah menurut Tumiso kala itu memfasilitasi barang-barang itu karena desakan dunia internasional.
"Padahal sama saja kan, boleh mengarang tapi karyanya tak bisa disebarluaskan," kata Tumiso. Belakangan naskah karya Pram itu berhasil diselundupkan Tumiso keluar Buru sehingga bisa dicetak dibaca banyak orang.
Kertas yang diberi pemerintah terbatas. Pram tak bisa mengandalkan jatah kertas tersebut. Untuk mengakalinya, para tahanan yang lain mencari cara. Salah satunya dengan membeli kertas dari luar Buru. Uangnya dari menjual hasil kerajinan yang dibuat.
Lihat juga:Genjer-genjer: Dendang Tercela Lagu Stigma |
Tumiso mencatat setidaknya ada 10 karya yang dihasilkan Pram semasa di Buru. Selain tetralogi, Pram juga menulis Arus Balik, Arok Dedes, Mangir, Ensiklopedi Citra Indonesia, dan Mata Pusaran. Namun naskah Mata Pusaran menurut Tumiso hilang dan tak sempat diterbitkan.
Satu lagi karya Pram namun Tumiso lupa judulnya. "Isinya soal perlawanan zaman Daendels, tapi tidak dibukukan hanya diceritakan," kata Tumiso.
Tumiso mengaku mengenal Pram sejak tahun 1964. Saat itu tengah digelar Kongres Serikat Buruh Film dan Seni Drama (Sarbufis) di Surabaya. Karena minimnya dana, peserta kongres saat itu diinapkan di rumah-rumah rekan dan kenalan.
Selain teman dekat, Tumiso merupakan salah satu orang yang memberikan masukan pada karya-karya Pram. Bekas guru yang kerap memberikan pembelaan pada buruh tani di Surabaya ini paham benar soal agraria dan aksi kaum tani.
Pram bersama Tumiso dan Oey Hay Djoen dibebaskan berbarengan pada Desember 1979. Bersama beberapa orang tapol yang lain, ketiganya tak langsung bebas karena kembali harus ditahan selama sebulan di Magelang dan Semarang.
Pram meninggal dunia pada 30 April 2006 pada usia 81 tahun. Sementara Oey Hay Djoen meninggal dua tahun sesudahnya pada 18 Mei 2008 pada usia 79 tahun. Tumiso sendiri saat ini berusia 75 tahun. Di usia senjanya, Tumiso masih aktif mengurusi panti jompo di daerah Kramat, Jakarta Pusat. Panti Jompo tersebut dikelola oleh Ribka Tjiptaning Proletariati anggota DPR yang juga anak seorang anggota Partai Komunis Indonesia. (sur)