"Berdasarkan analisis data per 30 September ini, kami melihat hotspot di Sumatra dan Kalimantan dalam seminggu terakhir terjadi penurunan. Jumlahnya terus menurun dan titik yang paling banyak terbakar tetap sama, di Sumatra itu di Sumatra Selatan dan di Kalimantan itu di Kalimantan Tengah," kata Sutopo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Rabu (30/9).
Namun menurutnya memang masih ada asap pekat yang membumbung di Sumatra, tepatnya di Jambi dan Kepulauan Riau, serta sebagian besar Kalimantan, dengan jarak yang pendek hanya rata-rata 300 meter. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) juga terus meningkat, bahkan sudah pada level berbahaya. Hal itu pun tak ayal membuat perekonomian masyarakat ikut terdampak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Personel yang dikerahkan ada 22.416 orang, baik personel TNI, Polri, BNPB, dan BPPD, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Lapan, BMKG, dan sebagainya. Semuanya terus melakukan penanganan dan sebaran kekuatan disesuaikan dengan tingkat ancaman yang ada," kata dia.
"Mereka akan kami perlakukan mobilisasi sesuai dengan tingkat ancamannya. Kapan itu, berdasarkan prediksi BMKG dan update El Nino yang ada bahwa ancaman sampai akhir November, bahkan beberapa institusi ternama dalam memprediksi iklim mengatakan bisa sampai pertengahan Desember," ujar dia.
Sutopo memaparkan, terdapat dua kendala yang muncul dalam upaya pemadaman api dan asap tahun ini. Pertama, wilayah yang terbakar sangat luas dibandingkan pada tahun 2012 dan 2013 kebakaran terkonsentrasi di Riau, sementara tahun ini terkonsentrasi merata dan yang paling parah terjadi di Sumatra Selatan dan Kalimantan Tengah. Kedua, persediaan air yang terbatas, padahal ciri khas gambut adalah susah dipadamkan. (sur)