"Kami telah berkordinasi dengan kedokteran forensik dan tim DVI, dan akan melakukan uji DNA terhadap beberapa pihak. Kami minta mereka kooperatif untuk diperiksa DNA," ujar Krishna di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (5/10).
Lebih lanjut, pemeriksaan DNA tersebut merupakan bentuk investigasi ilmiah yang dilakukan kepolisian untuk mengungkap pembunuhan dengan kekerasan seksual tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia memastikan sampai saat ini sudah dua saksi telah diperiksa secara intensif oleh polisi. Namun kedua saksi tersebut belum menjadi tersangka.
Krishna menyatakan hasil forensik mengungkap dugaan korban meninggal siang hari pada Jumat. "Diduga korban dibunuh setelah dia pulang dari sekolah," ujar Krishna.
Mengenai kasus tersebut, Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Tito Karnavian menyebutkan adanya kemungkinan pelaku pembunuhan mengidap penyuka anak-anak atau paedofil.
"Kami udah tanya keluarga, orang terdekat dan tidak menutup kemungkinan pelaku mengidap gangguan paedofil," kata Tito, di Makodam Jaya, Cililitan, Jakarta Timur, Senin (5/10).
Sementara itu Pengurus Pusat Muhammadiyah mengkritik pedas pemerintah terkait perlindungan dan penanganan kasus pembunuhan anak. Di mata Muhammadiyah, negara dinilai gagal dan abai melindungi anak yang tergolong sebagai kelompok rentan.
"Tingginya kekerasan terhadap anak menunjukan betapa rusaknya moralitas bangsa dan rapuhnya keluarga sebagai basis perlindungan dan pendidikan anak," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, melalui rilis tertulis, Senin (5/10). (utd)