"Itu kami sesalkan. Memang ada positifnya juga pergantian pejabat tapi kalau dampak ke penyerapan anggaran, pembangunan jadi terkendala," kata Sani, sapaan akrab Triwisaksana, di Gedung DRPD DKI, Jakarta Pusat, Rabu (7/10).
"Mass Rapid Transit (MRT) dibiayai Jepang, Light Rail Transit (LRT) juga dari pusat," kata Sani.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kurun satu tahun terakhir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah melakukan demosi atau penurunan jabatan sebanyak 201 pejabat. Para pejabat tersebut, yang menduduki eselon IV hingga eselon II, saat ini hanya diberdayakan di Badan Pendidikan dan Pelatihan Provinsi DKI Jakarta.
"Pejabat di SKPD seperti takut menggunakan anggaran. Seharusnya enggak perlu takut gunakan anggaran. Anggaran itu dari uang rakyat yang harus dikembalikan dalam bentuk pembangunan," ujarnya.
Namun, menurut anggota Komisi E ini, sistem transparansi yang diterapkan di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tidak bisa dijadikan alasan untuk takut menggunakan anggaran. Justru, transparansi harus dimanfaatkan untuk menunjukkan hasil kerja atau program yang dikerjakan ke publik.
Sedangkan, untuk penyerapan anggaran tertinggi antara lain, Gorontalo (63,1%), Maluku Utara (63%), Kalimantan Tengah (62,9%), Nusa Tenggara Timur (57,6%) dan Sulawesi Tenggara (56,9%).
Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo mengkhawatirkan rendahnya serapan anggaran di beberapa daerah salah satunya di DKI Jakarta. Namun, dirinya tetap optimis serapan anggaran daerah bisa mencapai diatas 90 persen jelang akhir tahun. (utd)