"Warga negara harus tahu sejarah bangsa ini biar dia mengerti. Bagaimana dia bangga kalau enggak mengerti sejarah perjuangan panjang sekali bahwa dijajah itu susah," ujar Ryamizard di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, kemarin.
"Bila perlu mati untuk negaranya, berkorban. Itu muaranya. Namun, prosesnya bagaimana warga negara tahu hukum dan kalau ada bencana alam kayak asap apa yang harus dilakukan," kata dia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Program Bela Negara Mulai Dibuka Pekan Ini |
Ryamizard menyebutkan, kegiatan bela negara sudah lama diformalkan. Namun, ia baru mengangkatnya kembali tahun ini karena menilai bahwa kegiatan ini penting untuk dilaksanakan. "Begitu diangkat, ribuan orang di Pekanbaru datang ke Kemenhan untuk mendaftar. Jadi rakyat itu suka. Hanya orang-orang tertentu saja yang enggak suka," ujar dia.
"Beliau membayangkan seperti national service (pelayanan negara) di beberapa negara, tapi tidak sama dengan wajib militer. Jangan sampai dipesankan bela negara sama dengan wajib militer. Bela negara seperti pembangunan karakter, nilai yang positif gunanya untuk character building (pembangunan karakter)," ujar dia.
Sebelumnya, Menteri Ryamizard menuturkan, program pembentukan kader bela negara merupakan gagasan pemerintah untuk mempersiapkan warga negara dalam menghadapi dua bentuk ancaman, baik ancaman militer maupun nonmiliter. Lebih dari itu, Ryamizard menjelaskan bahwa kewajiban bela negara memiliki penjabaran yang luas dan tidak selalu berkonotasi mengangkat senjata. Ia berkata, bela negara dijalankan setiap warga sesuai dengan kemampuan dan profesi mereka masing-masing.
Kementerian Pertahanan akan menyelenggarakan pembentukan kader pembina bela negara di 45 kabupaten dan kota secara serentak. Melalui pelatihan tersebut, Kemhan mencanangkan 4.500 warga sipil siap menjadi pembina.Ryamizard menegaskan, angka tersebut harus tercapai tahun ini. Di tahun-tahun berikutnya, para pembina tersebutlah yang akan melatih warga sipil lainnya. (utd)