"Tidak ada bedanya semua yang melanggar hukum diproses penyidikan," kata Badrodin di Markas Besar Polri, Jakarta, Rabu (21/10).
Polisi, kata Badrodin, tidak perlu melakukan komunikasi khusus dengan negara terkait. Pihak keamanan bisa langsung menindak perusahaan-perusahaan itu sesuai dengan alat bukti yang ditemukan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejauh ini kepolisian telah menetapkan tujuh perusahaan pemilik modal asing sebagai tersangka kasus dugaan pembakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah Indonesia. Tujuh perusahaan itu adalah PT ASP (China) di Kalimantan Tengah, PT KAL (Australia) di Kalimantan Barat, PT IA (Malaysia), PT H (Malaysia), PT MBI (Malaysia) di Sumatera Selatan, PT PAH (Malaysia) dan PT AP (Malaysia) di Jambi.
Penyidik lantas mendalami dugaan ketidaksesuaian sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran yang dimiliki perusahaan-perusahaan itu. Setiap perusahaan, kata Yazid, wajib melengkapi sarana dan prasarana tersebut sebagai syarat mengolah lahan wilayah kerjanya.
"Atas dasar itu kami tingkatkan ke penyidikan. Ketika diberi lahan kan melekat juga hak dan kewajibannya ke perusahaan tersebut," kata Yazid.
"Itu ditangani rekan-rekan di wilayah, kini sedang mengumpulkan alat bukti. Tim itu dari awal dilibatkan supaya satu persepsi," kata Yazid.
Polisi sudah menangani 256 laporan kasus yang mengakibatkan 49.325 hektare lahan terbakar secara keseluruhan. Dari ratusan kasus itu, 23 kasus masih dalam tahap penyelidikan, 106 kasus masih dalam tahap penyidikan, 63 kasus sudah dilimpahkan ke jaksa penuntut umum, satu kasus dinyatakan lengkap, dan 61 sudah segera disidangkan.
Jumlah tersangka perorangan sudah mencapai 226 orang, sementara jumlah tersangka korporasi ada 17. Sebanyak 83 tersangka perorangan sudah ditahan, ditambah lima orang tersangka lain dari pihak korporasi. (bag)