“Tahun 1997, El Nino begitu parah dan salah satu dampaknya kebakaran hutan dan lahan. Namun tahun ini lebih parah lagi,” kata Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK Raffles Panjaitan di Jakarta, Rabu (21/10).
Pegiat lingkungan Wetlands International I Nyoman Suryadiputra berpendapat kebakaran hutan tahun ini merupakan yang terparah sepanjang sejarah Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Aktivis Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau (Jikalahari) Woro Supartinah berpendapat sama. Menurutnya, ada kemungkinan kebakaran hutan akan lebih parah lagi bila dampak El Nino bertambah serius.
Data dari peneliti di Fakultas Ilmu Bumi Vrije Universiteit Amsterdam, Guido Van der Werf yang dipublikasi di situs World Resources Institute (WRI), menyebutkan bahwa kebakaran hutan Indonesia tahun ini telah melepaskan sekitar 1 miliar ton karbondioksida ke udara, lebih besar dari rata-rata pengeluaran emisi tahunan Jerman.
Penelitian Van der Werf tersebut berdasarkan analisis harian yang menggunakan data dari NASA.
Sebagai perbandingan, emisi tahunan total Jepang sebagai negara penghasil polusi karbon kelima di dunia sekitar 1,3 miliar ton. Sementara India 2,5 miliar ton, berdasarkan data Carbon Atlas terakhir tahun 2013.
Van der Werf mengatakan, saat kebakaran sudah dipadamkan –yang belum pasti kapan waktunya, maka emisi yang dikeluarkan Indonesia bisa melampaui India, negara ketiga pencipta polusi terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan China.
Emisi dari kebakaran hutan di Indonesia berdasarkan data WRI bahkan telah menyamai AS. Indonesia sebelumnya telah masuk 10 besar negara penghasil polusi karbon global.
Soal parahnya kebakaran hutan RI tahun ini juga diakui oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Pandjaitan. Ia menyatakan pemerintah terus berupaya mengatasi bencana ini.'
“Saya ke daerah, saya tanya, katanya tidak ada anggaran itu. Intinya enggak ada anggaran untuk penanganan asap di daerah yang sekarang terdampak,” ujar Jokowi. Pencegahan pun nihil.
Padahal, kata Jokowi, pemerintah daerah setempat bisa membuat kanal bersekat dan embung atau kolam penampung air di dekat hutan. Dengan demikian jika terjadi kebakaran hutan, mudah mencari air untuk memadamkan api.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana menyatakan jumlah titik api di seluruh Indonesia hari ini meningkat drastis menjadi 3.226 titik, dengan sebaran meluas hingga Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua. (agk)