Ia berkata, Selat Malaka tidak lagi dapat disamakan dengan perairan Somalia di Afrika yang rawan perompakan. Ia juga mengklaim, tingkat kejahatan di kawasan tersebut menurun hingga 70 persen setelah triwulan pertama tahun 2015.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami sadar, di laut kami mempunyai ancaman yang sama. Kami tidak akan mampu menyelesaikan persoalan-persoalan itu sendiri," ucap Taufiq.
"Kami akan membuka investigasi bersama. Setelah kami menangkap orang dan menginterogasinya, kami akan memberitahu negara lain," kata Taufiq. Ia berkata, hal serupa juga akan dilakukan Singapura, Malaysia dan Thailand.
Status perairan paling berbahaya sejak lama disematkan ke Selat Malaka. Pada buku berjudul Mengawal Perbatasan Negara Maritim, mantan Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno mengatakan sebelum tahun 2005 tingkat kejahatan di kawasan tersebut sampai pada tahap yang mengkhawatirkan.
Kondisi tersebut menurut Tedjo sungguh miris, mengingat 80 persen lalu lintas ekonomi dan energi negara-negara Asia Timur melalui Selat Malaka.
(obs)