Kepada CNN Indonesia, Jumat (30/10), Chaidar mengatakan, motif pemerasan yang diakui si tersangka kemungkinan memang benar. Alasannya, tidak ada kelompok teroris manapun yang mengakui ledakan tersebut.
"Saya juga heran. Begitu tahu, saya langsung analisis. Saya tanya kelompok-kelompok teroris, tidak ada yang mengakui kalau dia itu anggotanya," kata Al Chaidar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepala Kepolisian Daerah Metro Jakarta Raya Inspektur Jenderal Tito Karnavian pun menyatakan hal serupa. "Pelaku tidak terkait dengan jaringan-jaringan terorisme yang telah terpetakan sebelumnya."
Tito mengatakan motif teror yang dilakukan oleh Leopard Wisnu Kumala bukan atas dasar ideologi tertentu, melainkan atas dasar kebutuhan ekonomi belaka. Sebabnya, ketika melakukan aksi teror, Leopard bekerja sendiri dan tidak terorganisir.
Tito menjelaskan, Leopard termasuk dalam kategori Lone Wolf, istilah tersebut ditujukan kepada mereka yang melakukan aksi teror dengan secara otodidak dan melakukan aksi teror sendiri.
Sementara itu, Direktur Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengungkapkan bahwa Leopard menggunakan teknologi terbaru dalam aksinya. Leopard yang kini ditetapkan tersangka disebut pernah membuat empat bom sebelum meledakannya di toilet mal tersebut.
“Pelaku sudah membuat lima bom, ada dua bom diledakan, dua bom gagal meledak, dan satu bom berhasil dijinakan,” ujar Krishna. (rdk)