Menurut Bachtiar, setidaknya beberapa gua di kawasan Karst Citatah dalam kondisi kritis. "Gua itu ada di Pasir Bancana, Pasir Masigit, dan Gunung Hawu," katanya di Jakarta, Senin (1/11)
Hingga saat ini, terdapat beberapa gua di pegunungan kapur itu yang bernasib tragis. Gua Bancana yang berada di Pasir Bancana, adalah salah satunya. Pada 2014 keberadaannya tidak dapat ditemukan lagi akibat pertambangan kapur.
Lihat juga:Pola Tidur Nenek Moyang Manusia Terungkap |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Situs Gua Pawon dijadikan kawasan cagar lindung arkeologi atau kepurbakalaan setelah ditemukannya kerangka manusia purba. Penemuan kerangka manusia purba itu pada 2009, selanjutnya ditemukan fragmen tulang kaki manusia dengan panjang antara 20 sampai 30 centimeter.
Sementara itu, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Cahyo Rahmadi menyebutkan pertambangan kapur yang ada di Citatah berpotensi memutus distribusi air yang melewati gua.
"Penambangan di karst berpotensi memutus fungsi karst sebagai pendistribusi air melalui gua. Jika distribusi air terputus menyebabkan mata air hilang dan pemulihan seperti sediakala sangat sulit, kata Cahyo.
Kawasan karst merupakan bentang alam dengan batuan mudah larut seperti batu gamping. Proses karst Citatah hingga menjadi seperti saat ini memakan waktu puluhan ribu tahun
Karst memiliki jaringan gua sebagai pipa air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan dan mata air yang penting bagi masyarakat di kawasan itu. (pit)