Luhut menjelaskan, jelang kunjungan kenegaraan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Amerika Serikat, para pengusaha Indonesia menyewa jasa konsultan public relation agar dapat bertemu dengan komunitas pebisnis di negeri Paman Sam.
Menurutnya, lobi-lobi tersebut dilakukan untuk kepentingan perdagangan di berbagai sektor, seperti kelapa sawit, bubur kertas (pulp), udang, dan lingkungan. Kunjungan Presiden, tuturnya, dijadikan para pebisnis tersebut sebagai momentum untuk melakukan pendekatan ke beberapa pihak yang dianggap penting.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya malah terpikir elok juga mungkin di masukkan ke APBN ke depan untuk lobi-lobi semacam itu, lobi-lobi untuk kepentingan perdagangan kita, karena harus ada urusan juga misalnya ke kongresnya, itu kan harus diuruskan. Saya sedang terpikir, saya nanti akan konsultasikan, laporkan ke Presiden," katanya.
Luhut menambahkan, "Jadi saran saya pada kalian (awak media) yang muda-muda, enggak usah kita terjebak, terbawa pada gendangnya orang luar. Itu pesan saya. Saya sebagai perwira mengatakan tidak ada salah yang kita buat. Kita punya kehormatan, punya harga diri yang tidak akan kita jual ke negara manapun juga."
Artikel tersebut ditulis dan dipublikasikan oleh seorang dosen Ilmu Politik Asia Tenggara, Michael Buehler dari School of Oriental and African Studies di London pada Jumat (6/11) melalui situs https://asiapacific.anu.edu.au.
Dalam artikel tersebut dikutip data dari dokumen Kementerian Kehakiman Amerika Serikat pada 17 Juni 2015, terkait kesepakatan kerja sama antara Pereira International PTE LTD dan R&R Partner's Inc.
Dengan demikian, R&R Partner's Inc berperan sebagai konsultan bagi para pejabat Indonesia supaya mendapatkan akses ke Washington dalam rangka kunjungan Presiden Joko Widodo ke Amerika Serikat. (pit)