Sayangnya, rencana Ahok untuk membongkar dan meninggikan jembatan akan sulit untuk terealisasi. Alasan utama yang membuat itu sulit terealisasi adalah tidak adanya jalur alternatif pengganti jembatan tersebut.
"Kami berani bongkar jembatan, uang pun ada, tapi tapi ada jalan alternatif," kata Basuki saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (11/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tak hanya penaikkan jembatan saja yang menunggu adannya jalan layang untuk tol dalam kota, Ahok mengatakan pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) pun harus menunggu adanya jalan alternatif.
Banjir yang biasa terjadi di bawah jembatan, khususnya di Jalan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, tak hanya disebabkan oleh rendahnya jembatan ataupun permukaan tanah. Menurut Ahok, saringan di saluran air di jalan tersebut rusak dan akhirnya membuat banjir sering terjadi di sana.
Ahok berpendapat, seandainya saringan di lokasi tersebut dibiarkan begitu saja maka air pun belum tentu bisa mengalir dengan lancar dan cepat. Jika itu terjadi, maka pompa air di lokasi tersebut pun akan mati. Alhasil, banjir sudah pasti terjadi.
"Akhirnya memang semua harus ditunggu dengan alat berat juga, saya perintahkan 24 jam petugas alat berat harus siap siaga di Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet," katanya. (utd)