Dalam riset yang dilakukan selama lebih dari 35 tahun, profesor dari Universitas Amsterdam itu mendapati temuan bahwa sejarah telah direkayasa sedemikian rupa untuk mengubah haluan pemikiran dari masyarakat yang sosialis menjadi masyarakat yang mendewakan materi.
Slogan pembangunan yang diagung-agungkan pemerintah kala itu dipandang tidak lebih hanya untuk memperkaya segelintir elite penguasa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masyarakat berubah bukan hanya karena Presiden Soekarno digulingkan. Menurutnya, hal itu terjadi karena tanpa disadari sila kelima dalam pancasila sudah tidak lagi berlaku.
Genosida menjadi sorotan penting lantaran pembunuhan besar-besaran yang dilakukan secara berencana telah dianggap sebagai perbuatan yang dikutuk dunia internasional.
Namun pada kenyataannya, kata Weiringa, negara-negara Barat pada saat peristiwa 1965 terjadi malah mendorong pembantaian massal bangsa yang kala itu berada di bawah rezim pemerintahan Soeharto.
"Genosida ini penting untuk dicegah agar tidak kembali terulang. Maka sudah menjadi kewajiban dunia internasional untuk mencari kebenaran dan membawa keadilan untuk hal ini," kata Weiringa.
Meski telah menampilkan saksi dari banyak kalangan intelektual di Indonesia, pemerintah tetap mengabaikan keberadaan sidang rakyat tersebut.
Wakil Presiden Jusuf Kalla bahkan menyatakan pengadilan itu hanya semu dan tak layak untuk ditanggapi.
Sementara, Menteri Koordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan bersikeras bahwa negara tidak perlu meminta maaf atas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat yang terjadi pada tahun 1965.
Oleh karenanya, ia menentang adanya sidang maraton Pengadilan Rakyat Internasional atas Kejahatan Kemanusiaan 1965 yang terjadi di Indonesia atau International People’s Tribunal (IPT) 1965 pada hari ini di Den Haag, Belanda. Sidang rakyat itu rencananya bakal diselenggarakan selama empat hari hingga Jumat (13/11).
"Siapa yang mau diadili? Kok dia yang mutusin kita?" ujar Luhut lantang di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, kemarin malam.
(utd)