Riset SETARA Institute menempatkan Jakarta pada peringkat ke-65 dari 94 kota toleran se-Indonesia. Berdasarkan hasil tersebut, Jakarta berada di posisi tengah.
Ismail menyebutkan, salah satu faktornya adalah masih banyak peristiwa intoleransi terjadi di Jakarta, seperti pelarangan dan gangguan terhadap tempat ibadah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan yang ketiga, soal regulasi sosial atau peristiwa, dan terakhir adalah demografi agama. Hal ini dinilai berdasarkan skala 1-7, dimana 1 untuk nilai terbaik atau paling toleran, dan 7 nilai terburuk atau paling intoleran.
"Selain peristiwa, di Jakarta adalah ibu kota, tempat dimana segala kekuatan politik berkontestasi," kata Ismail.
Dengan demikian, Ismail menuturkan khusus untuk Jakarta, perlu dilakukan riset secara khusus karena banyak faktor lain di luar variabel yang telah dirumuskan. Ia pun menegaskan kembali bahwa Jakarta cenderung lebih menitikberatkan kepada peristiwa yang menyebabkan indikator toleransinya masuk ke dalam kategori sedang.
"Kalau mengacu kepada skor, untuk Jakarta kontribusi terbesar pada peristiwa, artinya, bukan tangan Gubernur yang menyebabkan skor ini buruk. Tapi kalau Gubernurnya tidak bertindak, bisa jadi menyebabkan skor ini buruk," kata Ismail.
Secara berurutan, hasil riset SETARA Institute menunjukan kota yang menduduki peringkat teratas tingkat toleransinya adalah, Pematang Siantar, Salatiga, Singkawang, Manado, Tual, Sibolga, Ambon, Sorong, Pontianak dan Palangkaraya.
Sedangkan, sepuluh kota yang mendapat predikat toleran terbawah, di antaranya, Bogor, Bekasi, Aceh, Tangerang, Depok, Bandung, Serang, Mataram, Sukabumi, Banjar dan Tasikmalaya. (utd)