“Kalau Ical dan Agung mau mencalonkan diri sebagai ketua umum di munas jelas sangat tidak layak. Mereka sudah gaek, sudah lewat masanya, dua orang itu pucuk konflik internal Golkar selama setahun belakangan ini,” ujar Syamsuddin kepada CNN Indonesia, Selasa (16/11).
Begitupun, lanjut Syamsuddin, dengan elite Golkar yang juga menjabat Ketua DPR Setya Novanto. “Dari rekam jejaknya tidak baik, tersangkut beberapa dugaan kasus seperti Freeport dan juga waktu itu menemui Donald Trump. Dari segi usia juga sudah cukup gaek, bukan berasal dari kalangan muda Golkar,” kata Syamsuddin yang menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan di pucuk partai beringin.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ada Airlangga Hartanto, Ade Komaruddin, Setya Novanto mau tapi masih malu-malu, Mahyudin, ada juga Aziz Syamsuddin," kata Fadel saat ditemui di kantor Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar, Senin (9/11).
“Kalau Setya Novanto yang nanti menjadi ketua umum sama saja. Harus diserahkan ke kader yang muda-muda demi untuk persatuan Golkar dan untuk kemajuan partai,” ujar Wakil Sekretaris Jenderal Partai Golkar yang jugaSekretaris Jenderal KNPI hasil kongres di Papua itu kepada CNN Indonesia.
Kader Golkar muda lainnya, Muhammad Sarmuji menyatakan untuk menyelamatkan Partai Golkar tidak boleh salah dalam memimpin ketua umum mendatang. “Kami mempertaruhkan nasib Golkar yang sudah tercabik-cabik,” ucap Sarmuji kepada CNN Indonesia, Selasa (16/11).
Mantan Sekretaris Jenderal DPP Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) itu menyatakan calon ketua umum Golkar harus memiliki visi yang jauh ke depan, mengerti sepenuhnya persoalan Golkar dan cara menyelesaikannya, dapat merangkul semua kubu atau faksi-faksi di Golkar, dan memahami perubahan sistem politik di Indonesia untuk menghadapi pilpres mendatang.
“Perlu adanya pergantian kepemimpinan untuk generasi muda Golkar,” tutur anggota Komisi IX DPR itu.
(obs)