"Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, jumlahnya meningkat. Akan tetapi, kapabilitas pelaku teror untuk melakukan aksi mungkin belum ada," ujar Tito usai menggelar pertemuan dengan Duta Besar dan Perwakilan Negara di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (18/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, sebagai penduduk dengan mayoritas beragama muslim, bukan berarti Indonesia tidak terkena dampak dari invasi ISIS terhadap negara asing.
Tito menjelaskan, alasan Indonesia menjadi sasaran aksi terorisme adalah adanya perbedaan ideologi dalam memahami agama. Sehingga, atas dasar perbedaan tersebut, para teroris melancarkan aksi untuk untuk mempraktikkan ideologinya tersebut.
"Mereka menyerang karena dorongam ideologi yang berbeda. Tujuan mereka untuk mendirikan ke khalifahan mereka sendiri," katanya.
Sebelumnya, Tito mengumpulkan para Duta Besar negara asing di Mapolda Metro Jaya untuk memberi penjelasan tentang situasi kemanan DKI Jakarta dan Indonesia pasca aksi terorisme di Paris, Perancis.
Dalam pertemuan tersebut, Tito menyatakan akan meningkatkan pengamanan di Kedutaan Besar dan obyek vital untuk memberikan rasa aman kepada masyarakat dan warga asing yang berada di Indonesia.
"Semua kedutaan besar kita anggap penting dan kita tingkatkan pengamanannya," ujar Tito. (meg)