"Mereka (Dinas Pendidikan) mengundang pengajar bahasa inggris sebanyak 20 orang dengan biaya di bawah Rp 200 juta," kata kata Ahok saat ditemui di Balai Kota DKI Jakarta, Jumat (20/11).
Kegiatan tersebut menurut Ahok dilakukan dengan cara penunjukan langsung. Hal itu dicurigai Ahok karena dinilainya terlalu mahal.
Menurutnya, penunjukan langsung untuk kegiatan bernilai di bawah Rp 200 juta memang banyak yang disalahgunakan oleh para pemain anggaran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nyatatnya, masih menemukan adanya pemberian upah kepada orang-orang tersebut dengan cara memanipulasi nama dari tenaga honorer tersebut.
"Mereka masih memasukkan dengan menggunakan nama tenaga ahli progammer," kata Ahok.
Oleh karena itu jika dihitung-hitung, kata Ahok, satu petugas honorer bisa mendapatkan uang Rp12 juta hanya dalam waktu empat hari kerja. Bahkan menurutnya, ada juga tenaga honor yang bekerja enam hari dan dibayar Rp57 juta.
"Dia melakukan tipuan matematika dan berpikir saya tidak melihat satu-satu," kata Ahok.
Penyusunan anggaran yang disebut Ahok sebagai tindakan manipulasi itu terjadi di dinas dan suku dinas.
Meski begitu, Ahok mengatakan bahwa masalah perawatan dan perbaikan secara garis besar sudah tidak ada masalah yang sebegitu besar. Ahok hanya menekankan agar tidak ada lagi kontraktor abal-abal yang melakukan perbaikan sekolah-sekolah.
"Saya mau menggabungkan dan yang masuknya adalah BUMN, jadi sekali lelang bisa sampai Rp 100 miliar. Saya tak mau ada kontraktor abal-abal lagi." (sur)