"Kami minta MKD bijaksana tidak memberikan sanksi yang berat kepada Novanto," kata Bambang di Gedung DPR RI, Jakarta, Jumat (20/11).
Selain itu, Sekretaris Fraksi Partai Golkar ini juga berharap agar MKD memberikan sanksi yang adil, setelah melakukan klarifikasi. Sebab, menurutnya belum tentu Setya Novanto bersalah dalam kasus ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Terkait instruksi Partai Golkar yang membantu Setya Novanto melalui kader di MKD, Bambang menjelaskan bahwa komunikasi itu dilakukan secara informal. Hal ini hanya untuk mengingatkan bahwa kader Golkar di MKD bersikap adil dan mendorong kasus diproses secara transparan.
Sebab, Bambang menuturkan, Partai Golkar mengharapkan agar kasus ini dibuka secara transparan, agar masyarakat mengetahui siapa yang salah. Sehingga, ketika Setya Novanto diketahui tidak bersalah masyarakat bisa memaafkan.
"Yang bersangkutan mencoba pencemaran nama baik dan ini yang merekam dan menyerahkan ke menteri motifnya apa?" kata Bambang.
Tak Berencana Investigasi
Bambang mengaku Golkar sejauh ini tidak akan menggelar investigasi maupun sidang etik dalam kasus yang menjerat Setya Novanto.
"Kami enggak berencana untuk itu," ujar Bambang.
Hal ini dikarenakan dalam pembicaraan itu belum terbukti kebenarannya. Ia masih menduga jika rekaman diungkap secara lengkap, maka ada kemungkinan terdapat pembicaraan yang lebih seram dan tidak terkait dengan Setya Novanto.
Setya Novanto diduga mencatut nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, dan meminta saham dalam pembicaraan perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Hal ini dilaporkan Sudirman Said ke MKD, Senin kemarin (16/11).
"Sudah ada MKD, bagaimana soal etika, pelanggaran, nanti ditentukan hasilnya setelah bersidang," kata Ical. (bag)