"Dari RS itu ada penawaran jangan sampai masalah ini tersebar luas dan ada bentuk perhatian secara uang duka sebesar Rp150 juta dari pihak RS Awal Bros kepada keluarga," ujar Yusuf saat dihubungi CNN Indonesia.
Yusuf mengatakan pihak keluarga menilai uang yang ditawarkan oleh RS Awal Bros merupakan bentuk itikad baik atas meninggalnya Falya yang baru berusia 14 bulan. Namun, Yusuf mengaku, pihak keluarga tidak meminta uang tersebut, melainkan meminta penjelasan atas meninggal Falya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yusuf mengaku sampai saat ini pihak keluarga belum mendapatkan keterangan langsung dari RS Awal Bros. Pasalnya, keluarga Falya menduga ada kelalaian yang dilakukan oleh RS Awal Bros hingga menyebabkan Falya meninggal dunia.
"Kami minta RS secara terbuka mengakui kesalahan dan menyampaikan secara terbuka ke publik melalui media. Kelihatannya pihak RS keberatan soal itu," ujar Yusuf.
Dinkes Kota Bekasi Dituduh Kurang Peduli
Yusuf menuturkan Dinkes Kota Bekasi sama sekali belum menumui keluarga Falya untuk membahas persoalan kematian balita tersebut. Ia menilai, Dinkes Kota Bekasi tidak netral dalam mengawal proses penyelesaian kasus tersebut.
Yusuf juga mensinyalir, alasan minimnya kepedulian Dinkes Kota Bekasi dilatari oleh ucapan Kepala Dinkes Kota Bekasi yang menyatakan bahwa kasus tersebut tidak perlu dibesar-besarkan dan latar belakangnya yang merupakan seorang dokter.
"Beliau juga diketahui praktik di RS Awal Bros. Secara Undang-Undang tidak melarang. Tapi kami tidak fokus pada latar belakangnya, tapi lebih kepada objektifitas," ujar Yusuf.
Sebelumnya, Falya dinyatakan meninggal usai menjalani perawatan di RS Awal Bros, pada awal November tahun lalu. RS Awal Bros sebelumnya menyatakan bahwa Falya hanya mengalami dehidrasi ringan. Namun, kondisinya semakin memburuk setelah diberikan suntikan antibiotik hingga akhirnya meninggal dunia.
Sementara itu, pihak RS Awal Bros Bekasi masih belum mau memberikan respon, baik via melalui telepon ataupun pesan singkat, hingga berita ini diturunkan. Ketika dihubungi pada Senin (23.11) ini, humas RS Awal Bros, Yadi, meminta CNN Indonesia untuk menelepon sejam kemudian dengan nada meninggi dan kemudian mematikan telepon. (utd)