"Posisi (Santoso) sudah terdeteksi, tapi belum bisa dilakukan penindakan," kata Kepala Kepolisian Republik Indonesia Badrodin Haiti di Istana Negara, Jumat (20/11).
Menurutnya, pihak TNI dan Polri memiliki waktu hingga 9 Januari 2016 yang menjadi waktu terakhir operasi Camar Maleo IV. Hingga kini pihaknya terus melakukan pasokan personil dan juga pengintaian dari unsur TNI-Polri.
Lihat juga:Kelompok Santoso, Sel Jihad Aceh di Celebes |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Badrodin menuturkan, evaluasi tersebut dilakukan bersama Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Gatot Nurmantyo.
Oktober lalu, Polri mengerahkan sekitar 1.000 personel gabungan dari Korps Brigade Mobil dan Detasemen Khusus 88 Antiteror. Kepolisian juga dibantu pasukan elit TNI, Komando Pasukan Khusus.
Namun ketika itu, kepolisian belum berhasil menangkap Santoso yang disebut Badrodin bersembunyi di gunung dan hutan.
Maret lalu, pentolan kelompok Santoso, Daeng Koro, tewas di tangan kepolisian. Mabes Polri menyebut Daeng sebagai pelatih dan ketua pelaksana beberapa latihan militer yang digelar di Tuturuga, Kabupaten Morowali dan Gunung Tamanjeka, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah; serta Mambi, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat. (pit)