“Prosedur pengadaan helikopter sudah benar, untuk menggantikan Super Puma yang digunakan oleh presiden sejak tahun 2002. Demi keamanan memang sudah selayaknya diganti,” kata Hasanuddin di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).
Total usia Super Puma yang selama ini ‘disulap’ menjadi helikopter VVIP ialah 25 tahun. Super Puma itu, menurut Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, sesungguhnya bukan untuk VVIP sehingga tak antipeluru dan tak memenuhi standar keselamatan. (Simak Fokus: HELIKOPTER UNTUK PRESIDEN)
Berbeda dengan AgustaWestland AW101 yang telah dibuat antipeluru. Pun helikopter yang diproduksi di Italia itu dilengkapi teknologi canggih dengan desain interior yang mewah dan nyaman, amat cocok untuk pejabat tinggi dan tamu negara selevel presiden dan wakil presiden.
Meski Airbus Helicopter bermarkas di Perancis, EC225 menurut Hasanuddin dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia yang berbasis di Bandung, Jawa Barat, Indonesia. PT DI menangani desain dan produksinya, sedangkan Airbus Helicopter memegang lisensinya.
“EC225 ini lebih bagus dan sudah dipakai oleh 32 kepala negara dan raja di dunia. Lagipula lebih baik kita pakai buatan dalam negeri. Harganya hanya US$35 juta, bandingkan dengan AgustaWestland AW101 yang US$55 juta,” kata Hasanuddin.
EC225 antara lain digunakan oleh Argentina, Perancis, Jepang, Oman, China, dan Vietnam untuk keperluan militer; serta Aljazair, Kanada, Malaysia, Spanyol, dan Inggris untuk keperluan sipil. Sementara AW101 untuk VVIP dioperasikan oleh Arab Saudi, Aljazair, Nigeria, dan Turkmenistan.
“Hendaklah dikaji ulang pembelian helikopter VVIP (AW101) itu,” ujar Hasanuddin.
Saat ini perakitan satu helikopter AgustaWestland AW101 yang dipesan TNI telah mencapai tahap akhir. Sebelum pembayaran dan pengiriman, TNI AU akan menerbangkan sejumlah pilot dan teknisi dari Skuadron Udara 45 ke pabrik AgustaWestland untuk mempelajari cara kerja helikopter itu.
TNI tak hanya menggelar pengadaan helikopter VVIP, tapi juga helikopter serbu dan helikopter antikapal selam. Seluruh pembelian alat utama sistem senjata (alutsista) itu masuk Rencana Strategi TNI 2015-2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT