Yusuf berkata, temuan PPATK tersebut menjadi satu dari sekian perhatian pemerintah Indonesia dalam International Counter-Terrorism Summit di Sydney, Australia, pertengahan November lalu.
"Kami menemukan, ada oknum di Australia, menerima sumbangan dari luar negeri. Lalu sumbangan itu ia kirimkan ke Indonesia," ucap Yusuf di Jakarta, Kamis (26/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Efek Mengerikan Obat 'Doping' Tentara ISIS |
Tindak lanjut lain dari International Counter-Terrorism Summit 2015 adalah melaksanakan kampanye antiterorisme regional yang juga akan diikuti Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, Kamboja.
Firman berkata, karena tidak beridentitas, aliran dana sosial tersebut tidak dapat dilacak oleh PPATK. Menurutnya, dunia internasional mendesak pemerintah Indonesia mengubah kebiasaan masyarakat ini.
"Negara-negara lain minta semua aliran dana harus jelas. Salah satu rekomendasi bagi Indonesia adalah untuk mengatur ini, supaya tidak ada lagi nama 'hamba Allah'," kata Firman.
Mengutip rekomendasi untuk Indonesia, Firman menuturkan, berapa pun anggaran yang dialirkan, jika tidak dilengkapi indentitas maka dapat digunakan untuk kegiatan yang tidak jelas. (bag)