"Saya kira antara lain karena mereka jauh di dalam hutan dan mereka cukup kuat sampai 30 orang bersenjata. Jadi, kepolisian dan tentara harus hati-hati," kata Sydney saat dihubungi CNN Indonesia, Kamis (3/12).
Lihat juga:Kapolri Pastikan Kelompok Santoso Tembak TNI |
"Jelas ada risiko kalau pergi memburu jaringan ini tanpa ada persiapan yang benar," katanya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun, beberapa tahun belakangan saya lihat tidak ada undangan tersebut. Makanya saya mempertanyakan status operasinya," kata Sydney.
Dia mengatakan, saat kejadian, tim yang diserang oleh kelompok Santoso itu sedang melaksanakan Operasi Camar Maleo IV.
Dalam pelaksanaan operasi perburuan Santoso itu, kata Badrodin, tim Polri dan TNI bisa bergerak sendiri-sendiri atau dalam tim gabungan.
"Saat kejadian itu tim kecil, hanya TNI saja," kata Badrodin.
Hari Minggu kemarin, Sersan Kepala Zainuddin tewas ditembak di Desa Maranda, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, sekitar 10.00 WITA.
Saat itu penembak belum dipastikan sebagai bagian dari jaringan kelompok teroris Santoso. Hanya saja, Zainuddin yang merupakan anggota Tim Bravo15 saat itu sedang sedang menjalankan Operasi Camar Maleo IV. (utd)