"Saya butuh mobil untuk mengantar anak berobat ke Makassar," kata Abdul saat ditemui CNN Indonesia.com di Bantaeng. Dia menjelaskan di desanya, fasilitas kesehatan belum ada yang mendukung pengobatan penyakit jiwa anaknya.
Saat itu, seorang petugas, Husni Alam, langsung melakukan verifikasi data. Setelah mengecek identitas pelapor, timnya segera menindaklanjuti pengaduan dan memberikan rekomendasi.
Ambulans siap menunggu panggilan warga di Brigade Siaga Bencana, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rezy memastikan pelayanan kesehatan akan diberikan secepatnya. Untuk ambulans, dia mengatakan waktu tempuh ke lokasi paling lambat 15 menit, biasanya itu saat menjangkau wilayah dataran tinggi. Satu tim yang dikirim akan terdiri dari satu dokter dan dua perawat di BSB.
Wakil Bupati Bantaeng Muhammad Yasin mengatakan bencana tidak selalu terkait dengan peristiwa alam, namun juga kebakaran, keterlambatan penanganan persalinan, atau keterbatasan fasilitas kesehatan bagi si sakit.
Prioritas Kesehatan
Kesehatan menjadi prioritas utama di Bantaeng, kata Yasin, sejak angka kematian ibu dan bayi serta gizi buruk relatif tinggi di kabupaten tersebut, yakni mencapai 11 persen per tahun.
"Sebelum 2009, Bantaeng masuk dalam kategori tertinggal. Rata-rata dari 100 bayi yang lahir, sekitar 35 di antaranya meninggal," kata Yasin.
Setelah program BSB digulirkan, Yasin mengklaim derajat kesehatan mengalami perbaikan. Dia mengatakan angka kematian ibu dan bayi kini mencapai nol persen. Keberadaan BSB menjadi satu wadah memberikan fasilitas jaminan pelayanan kesehatan kepada masyarakat Bantaeng.
"Siapapun warga Bantaeng, ketika membutuhkan layanan kesehatan, segera dilayani karena itu sangat berpengaruh dalam rangka pengembangan dan produktivitas wilayah,” kata Yasin.
Setiap bulan ibu hamil dan balita wajib periksa kesehatan secara gratis di Posyandu Bantaeng. (CNN Indonesia/Prima Gumilang) |
Sekretaris Desa Bonto Jai, Sarifah Jum, mengatakan terdapat dua orang petugas yang biasa berjaga di Posyandu. Seorang bidan berstatus pegawai tidak tetap, seorang lagi warga kampung setempat.
"Jika bidang Posyandu tak mampu menangani persoalan kesehatan warga, dia merujuk ke Puskesmas atau rumah sakit," kata Sarifah.
Sarifah menjelaskan jarak dari desa ke Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sekitar tiga kilometer. Sementara untuk pergi ke rumah sakit berjarak sembilan kilometer dari desa.
Namun Sarifah mengatakan jarak tidak lagi jadi masalah. Sejak ada fasilitas Brigade Siaga Bencana, kata dia, warga cukup menelepon 113. "Ambulans paling cepat bisa datang dalam dua menit."
Pernah suatu ketika ada orang yang mengalami gangguan jiwa di desa tersebut, dan bidan di sana tidak mampu menangani penyembuhan. Orang tersebut langsung dijemput ambulans BSB untuk dibawa ke rumah sakit.
Sebelum ada layanan BSB, kepala desa biasanya memanfaatkan mobil pribadi milik warga. Dalam keadaan darurat, kendaraan itu digunakan untuk mengantar ke rumah sakit.
"Sekarang jadi lebih efektif waktu buat layanan kesehatan warga," ujar Sarifah. (utd)
Ambulans siap menunggu panggilan warga di Brigade Siaga Bencana, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)
Setiap bulan ibu hamil dan balita wajib periksa kesehatan secara gratis di Posyandu Bantaeng. (CNN Indonesia/Prima Gumilang)