"Ini silaturahim dan berdoa bersama khusus memperingati tragedi AirAsia bersama keluarga dan kerabat korban," ujar Presiden Direktur AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko ketika ditemui usai acara yang digelar tertutup, Senin (28/12).
Pada kesempatan tersebut, hadir dari pihak AirAsia yang diwakili langsung co-founder Datuk Kamarudin, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya F.H. Bambang Sulistiyo, mantan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini beserta perwakilan dari Polda Jatim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika disinggung terkait hasil Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), pria berkaca mata itu enggan menanggapinya dengan alasan menjadi urusan internal perusahaan.
Sementara itu, salah seorang keluarga korban, Imam Sampurno mengaku acara ini sangat bermanfaat sebagai penguat jalinan silaturahim sekaligus mengenang insiden yang mengakibatkan 162 orang yang terdiri dari dua pilot, empat awak kabin dan 156 penumpang termasuk seorang teknisi meninggal dunia.
Kakek asal Probolinggo tersebut kehilangan empat anggota keluarganya, yakni anak dan menantunya Donna Indah Nurwatie dan Gusti Made Bobi Sidartha, kemudian dua cucunya Gusti Ayu Putriyan Permatasari serta Gusti Ayu Made Keisha Putri.
Pesawat AirAsia QZ8501 rute Surabaya-Singapura yang mengalami kecelakaan jatuh di Perairan Pangkalan Bun, Minggu pagi, 28 Desember tahun lalu.
Berdasarkan hasil investigasi KNKT, pesawat Airbus A320 PK-AXC yang semula terbang di ketinggian 32 ribu kaki di atas permukaan laut tersebut mengalami "stall" atau kehilangan daya angkat.
Pelaksana Tugas Kepala Sub-Komite Investigasi Kecelakaan Transportasi Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo dalam konferensi pers awal Desember lalu membenarkan pesawat mengalami kehilangan daya angkat hingga akhir rekaman kotak hitam "Flight Data Recorder" atau FDR.
"Pengendalian pesawat oleh awak pesawat secara manual selanjutnya menyebabkan pesawat masuk dalam kondisi yang disebut 'upset condition' dab 'stalk' hingga akhir FDR, ini sudah di luar kemampuan pilot," katanya. (sip)