Sutiyoso berkata, komunikasi intensif yang ia jalin dengan Din selama satu bulan terakhir dapat terlaksana karena bantuan pemantau asing.
"Untuk mengetahui nomor telepon Din, saya menggunakan pihak lain yang mempunyai akses kepadanya, termasuk saudara Juha," ujar Sutiyoso di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (29/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sutiyoso mengatakan, operasi intelijen memang tidak dapat dilaksanakan begitu saja tanpa melalui pelbagai tahap persiapan. Setelah komunikasi via telepon dengan Din berlangsung sebulan, Sutiyoso menjajaki pertemuan tatap mata.
"Saya butuh waktu tiga sampai empat jam untuk sampai karena jalannya sulit. Saya melewati kebun, sawah, dan perkampungan kecil," katanya.
Sepanjang perjalanan, Sutiyoso merasakan intaian yang dilakukan anggota kelompok Din. "Saya bolak-balik dicegat, saya ikuti karena itu prosedur mereka," ucap mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Sebelum pertemuan berlangsung, Sutiyoso diminta hanya mengajak dua orang. Ia pun memutuskan untuk membawa satu ajudan dan satu pengawal.
Di tengah perbincangan, Din mengajak Sutiyoso bertandang ke rumahnya di Desa Ladang Baro, Kecamatan Julok, Aceh Timur. Kepada Sutiyoso, Din mengaku tak pernah lagi pulang ke rumah selama empat tahun.
"Seluruh anggotanya ikut. Kami konvoi, sambil makan, minum sampai tengah malam," tutur Sutiyoso.
Usai perbincangan semalam suntuk, Sutiyoso menyepakati lima tuntutan kelompok Din. Selasa pagi tadi, Din memimpin apel di hadapan para anggotanya.
Hasilnya, menurut Sutiyoso, sebanyak 120 anak buah Din menyerah dan memberikan 15 pucuk senjata api secara sukarela. (obs)