"Berbeda dengan Aceh, di Organisasi Papua Merdeka (OPM) tidak ada tokoh yang bisa diajak berdialog dengan pemerintah. Di Papua, siapa yang bisa diajak bicara? Tidak ada," kata Muradi saat dihubungi CNN Indonesia, Senin (4/1).
Belum lagi, kata Muradi, tiap-tiap kelompok separatis di Papua punya tujuan yang berbeda. Kelompok separatis yang bermukim di pegunungan, misalnya, punya mimpi yang berbeda dengan kelompok separatis yang bermukim di wilayah pesisir.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Benny Wenda Tolak Bekerja Sama dengan BIN |
"Menurut saya, pernyataan Sutiyoso yang ingin melakukan pendekatan lunak ke pimpinan OPM adalah salah satu strategi BIN mencari celah untuk meredakan ketegangan di Papua. Di luar itu, selama ini pendekatan pemerintah adalah memandang kelompok separatis sebagaia masyarakat sipil bersenjata," kata Muradi.
"Ini masalah strategi, supaya bisa memutus jaringan internasional yang mau masuk ikut campur. Presiden Joko Widodo juga selama ini telah melakukan tiga pendekatan untuk meredam konflik di Papua," katanya.
"Dialog juga sudah dilakukan. Belakangan, jurnalis asing juga sudah bisa masuk Papua. Saya pikir kalau pembangunan Papua sudah maju, rakyat Papua juga akan enggan melepaskan diri dari NKRI," katanya.
Lebih lanjut, Muradi menilai saat ini tidak ada potensi Papua memerdekakan diri, dari dalam negeri. Namun, potensi adanya pergerakan dari luar negeri masih ada.
"Oleh karena itu, BIN seharusnya melakukan diplomasi di luar negeri secara tertutup. BIN pasti punya atase di luar negeri," ujarnya.
BIN sebelumnya berencana melakukan “pendekatan lunak” terhadapnya, seperti yang juga dilakukan terhadap mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka Din Minimi.
Benny juga mengkritik perkataan Kepala BIN Sutiyoso yang menyebut jika dia menolak bekerja sama, BIN akan menyiapkan “pendekatan lain” yang hingga kini masih rahasia dan tidak dapat diungkapkan. Benny menganggap ucapan itu sebagai ancaman. (bag)