Menurut Ryamizard, kedua negara akan menjadikan kecelakaan pesawat aerobatik tersebut sebagai pelajaran berharga dalam pengembangan jet tempur generasi 4,5 itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secanggih apapun sebuah jet tempur, menurut Ryamizard, tidak akan menjamin ketiadaan kecelakaan. "Pesawat apa sih yang tidak pernah jatuh? Sehebat apapun jatuh. Concorde hebat, tapi berapa yang jatuh," ucapnya.
Ryamizard berkata, lima prototype pesawat tempur tersebut ditargetkan selesai tahun 2020. Indonesia diwajibkan menggelontorkan Rp18 triliun untuk menyelesaikan rancang bangun jet tempur itu.
Setelah prototype selesai, Ryamizard berencana memproduksi dua skuadron KF-X/IF-X. "Kalau beli pesawat tempur, semua negara bisa. Tapi kalau membuat, tidak semua bisa," ujarnya tentang urgensi proyek tersebut.
Pada 20 Desember lalu, pesawat aerobatik milik TNI AU, T50i Golden Eagle, yang dikemudikan Letnan Kolonel Marda Sarjono dan Kapten Dwi Cahyadi, jatuh di Pangkalan Udara Adisucipto, Yogyakarta. Kedua pilot itu tewas pada kecelakaan tersebut.
Investigasi TNI AU atas kecelakaan pesawat aerobatik yang dikembangkan secara bersama oleh Korsel dan Amerika Serikat itu saat ini masih berlangsung. (obs)