"Saya ditargetkan oleh Pak Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama tahun ini. Kira-kira jumlahnya mencapai, tapi belum dijajaki sebanyak seribu bus untuk tahun ini," ujar Budi di Gedung PT TransJakarta, Jakarta, Kamis (7/1).
Budi mengatakan bus yang didatangkan tahun ini tidak lagi berasal dari Tiongkok, seperti yang didatangkan Dirut TransJakarta sebelumnya Antonius Kosasih. Budi mengaku akan menggunakan bus pabrikan Eropa. Menurut Budi, pabrikan Eropa lebih bertanggung jawab terhadap perawatan dan tidak berbeli-belit.
"Karena biar perawatan lebih mudah. Karena kita tahu, kami konsen dengan perawatan. Kami konsen dengan pengadaan. Oleh karena itu, kami butuh agen pemegang merek yang betul-betul eksis di Indonesia," ujar Budi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Budi mengaku akan tetap menerapkan sistem Rupiah per kilometer untuk menjamin sinkronisasi antar transportasi umum yang beroperasi di DKI, khususnya kepada Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) dan Metromini yang rencananya akan diajak bergabung.
"Tidak satu industri atau pelayanan publik yang tidak ada jaminan atau sibsidi dari pemerintah," ujar Budi.
"Tentu ini bukan semata-mata oleh TransJakarta. Kami harus melibatkan Dinas Pehubungan DKI dan semua pihak untuk menjajaki ulang. Supaya bisa efektif terkait dana yang diberikan Pemda agar bisa dinikmati seluruh masyarakat," ujar Budi. (sip)