Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan, usai Mirna kejang-kejang dan dibawa ke RS, kopi yang ia minum dibawa ke dapur oleh pekerja Olivier Cafe yang juga saksi mata.
Pegawai tersebut, kata Krishna, menuang setetes kopi itu menggunakan sedotan ke telapak tangannya. Satu tetes kopi itu lantas ia cecap. Saat itu juga ada reaksi.
Pegawai kafe itu didera rasa mual selama 30 menit, dan ia kemudian muntah. Selain itu, pegawai tersebut juga merasa badannya kebas atau kaku.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan reaksi hebat atas satu tetes saja kopi yang disesap Mirna, kata Krishna, polisi lantas menyimpulkan “Kopi itu diduga mengandung sesuatu.”
Meski kematian Mirna diduga tak wajar, polisi menegaskan hal itu harus dibuktikan lewat analisis ilmiah terhadap sampel lambung, hati, dan empedu Mirna. Kandungan kopi pun harus diteliti lagi. (Simak terus perkembangan kasus ini dalam Fokus: KOPI MAUT MIRNA)
Polisi pun mesti melakukan rekonstruksi kornologi kejadian, serta mencocokkan sejumlah alat bukti untuk mengetahui apakah kematian Mirna mengandung unsur pidana atau tidak.
Di Olivier Cafe Grand Indonesia pagi ini, Senin (11/1), Tim penyidik Indonesia Automatic Fingerprint Identification System (Inafis) Kepolisian RI melakukan prarekonstruksi perkara.
Kronologi tewasnya Mirna
Mirna yang merupakan warga Sunter, Jakarta Utara, datang ke Olivier Cafe, untuk bertemu dua rekannya, H dan S.
Rekan Mirna, S, datang lebih dulu sekitar pukul 16.00 WIB dan langsung memesan minuman untuk dia, Mirna, dan seorang rekan lain, H.
S memesankan kopi Vietnamese untuk Mirna, dan dua minuman lain, Cocktail dan Fashioned Fazerac, untuk dia sendiri dan H.
Minuman Mirna datang paling akhir, sekitar 40 menit setelah minuman S dan H tiba. Tak berapa lama setelah minumannya datang, Mirna langsung meminum minuman itu.
Namun baru sedotan, Mirna mengeluh sakit. Ia kejang-kejang hingga akhirnya dibawa ke klinik yang berada di mal tersebut untuk mendapatkan penanganan medis.
Mirna kemudian dipindahkan ke RS Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat, untuk mendapat penanganan medis lebih intensif. Namun nyawanya tak tertolong.