Berdasarkan data di lapangan dari 27 warga Rangkasbitung yang diduga bergabung Gafatar itu terdiri keluarga Muhaemin (45) bersama isteri dan dua anaknya, keluarga Maman (45) dengan ibu, mertua serta dua anaknya.
Keluarga Sanimah (40) bersama suami dan lima anak serta Nandar (35) bersama isteri dan dua anak. Kemudian, bendahara Gafatar Kabupaten Lebak Harun (62) bersama isteri dan empat anak.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Badan Intelijen Dalami Gafatar |
"Semua warga Rangkasbitung yang menghilang misterius itu tercatat 27 orang," kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (Kesbanglinmas) Kabupaten Lebak Yusup saat dihubungi di Lebak, Rabu (13/1).
Selain itu juga kediaman mereka sebagian kosong juga lainya sudah dijual ke orang lain. Mereka para anggota Gafatar itu, kata dia, sebelumnya sudah dilakukan pendekatan agar tidak mengembangkan ajaran sesat.
Bahkan, pihaknya telah memanggil anggota Gafatar dengan melibatkan MUI, DPRD, Kepolisian dan Bakorpakem. Dengan pendekatan ini, diharapkan mereka kembali ke jalan yang benar dan tidak menyesatkan.
Karena itu, pemerintah daerah melarang paham Gafatar berkembang di masyarakat karena menyebarkan ajaran sesat dan menyesatkan.
Disamping itu juga diperkuat dengan Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 11 tahun 2015 tentang larangan aktivitas penganut, anggota dan/atau anggota pengurus jemaat Gafatar.
"Kami minta masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap kelompok-kelompok ajaran sesat, radikal juga termasuk ISIS," katanya.
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Lebak KH Baidjuri menegaskan organisasi Gafatar jelas-jelas sesat dan tidak berdasarkan ajaran agama Islam.
Lihat juga:Fahri Hamzah: Saya Pernah Didatangi Gafatar |
Kepergian mereka menghilang misterius tanpa pemberitahuan kepada orangtua, keluarga, tetangga dan aparat desa setempat. Karena itu, pihaknya mengkhawatirkan anggota Gafatar yang dilarang tersebut membangun kekuatan.
Disamping itu juga diduga mereka bisa saja bergabung dengan ISIS maupun radikalisme lainnya.
"Kami berharap warga tetap waspada agar tidak tertarik terhadap paham yang menyesatkan," katanya.Budi Suyanto (pit)