"Gafatar ini metamorfosis dari beberapa aliran, salah satunya di beberapa daerah ialah pecahan Al-Qiyadah Al-Islamiyah," kata Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI, KH Cholil Nafis.
Menurut Cholil, pola gerakan Gafatar di tiap daerah berbeda-beda. Namun gerakan Gafatar mirip dengan gerakan yang pernah dibawa Ahmad Musadeq.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Markas Besar Kepolisian RI mengklarifikasi dugaan MUI tersebut. “Gafatar memang dari sana (organisasi Musadeq),” kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Inspektur Jenderal Anton Charliyan.
Musadeq divonis penjara pada 2008 dan sempat bertobat di hadapan MUI. Namun ia akhirnya tetap menyebarkan ajarannya lewat nama-nama baru, di antaranya Milah Abraham dan Gafatar.
Polri menganggap Gafatar berbahaya karena mengusung ideologi yang menyimpang –mengatasnamakan Islam namun tak sesuai dengan syariat agama Islam.
Gafatar misalnya disebut mempermudah ritual agama, antara lain tidak perlu menunaikan salat lima waktu dan puasa. Ritual tak lagi penting karena bagi mereka yang utama ialah berbuat baik kepada sesama.
"Agama dipermudah. Bagi yang tidak suka ribet dan ingin instan, maka sangat menarik," kata Anton.
Selain itu, Gafatar meyakini Muhammad bukan nabi akhir zaman, sebab ada utusan terakhir, yakni Ahmad Musadeq sendiri.
Generasi baru Musadeq
Gaya baru diterapkan Gafatar atau mungkin Musadeq 2.0 alias Musadeq generasi berikutnya. Lewat komunikasi yang mumpuni, Gafatar tak memberikan tekanan soal akidah dan keyakinan seperti yang dibawa Musadeq. Gafatar menekankan pada nasionalisme bernegara.
Di Semarang, Jawa Tengah, Gafatar dikenal sebagai organisasi sosial yang aktif melakukan kegiatan penghijauan dengan pendekatan lebih populer seperti menonton film bareng.
Kini kantor sekretariat Gafatar di Semarang ditinggalkan penghuninya begitu saja. Rumah dua lantai itu terlihat berantakan.
Tampak berkas surat-surat dengan kop bertuliskan Gafatar Properties. Ada pula spanduk di tembok yang bertuliskan “Gafatar Menuju Program Kemandirian dan Ketahanan Pangan.”
Di rumah tersebut juga melekat sambungan telepon dan internet. Kantor itu, menurut warga sekitar, mulai sepi dan tak berpenghuni sepekan terakhir lebih bersamaan dengan berita hilangnya dokter Rica di Yogyakarta.
"Seminggu belakangan rumah ini sepi ditinggal penghuninya. Padahal biasanya setiap hari tertentu banyak orang kumpul di situ", ujar Jatmiko, warga setempat.
Lihat juga:Polri Duga Gafatar Cuci Otak Anak Muda |
Keberadaan Musadeq hingga kini pun belum diketahui. Namun sejumlah hasil pelacakan polisi mengarah ke Kalimantan. Di pulau itu pula, dokter Rica ditemukan dan dibawa pulang ke Yogyakarta. Namun Rica kini kerap melamun dan menatap kosong sehingga polisi mendatangkan tim psikolog untuknya. (agk)