Aksi Ajun Komisaris Besar Untung Sangaji menjadi sorotan di medsos setelah tindakannya bergelut tanpa rompi pelindung dengan para pelaku teror di lokasi kejadian, terekam video warga.
Ditemui di sebuah diskusi di Cikini, Untung menceritakan langsung pengalamannya menghadapi teroris.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbekal pengalaman bertugas di Satgas Bom (sebelum Densus 88), Perwira Menengah Pusdik Polair itu dengan sigap langsung mengidentifikasi jenis bom yang telah memicu teror tersebut.
Pistol Untung yang selama itu disarungkan lantas dikokang. Untung kemudian mendapati pelaku, yang dilengkapi senjata, melempar bom ke bawah mobil Karo Ops Polda Metro Jaya. Bom itu meledak.
Ia bergegas mendekat ke lokasi persembunyian dua pelaku yang berlindung di balik mobil yang terparkir di depan gedung. Bersama rekannya, IPDA Tamat Suryani, Untung berlari memutar arah melalui sisi kiri kavling Menara Cakrawala.
"Dari situ kaki pelaku dihantam Tamat, saya hantam dadanya. Mendapat tembakan dari Tamat, matilah dia," kata Untung.
Ketika peristiwa itu berlangsung, Untung sudah tidak lagi memikirkan nyawanya sendiri. Logo tengkorak dan pencabut nyawa yang ada di pistolnya menjadi falsafah bagi Untung agar 'berbuat baik sebelum mati dan tidak ragu menghantam yang jahat'.
"Untuk apa saya jadi polisi kalau tidak berani. Kami menganggap kaki yang satu sudah di atas kuburan. Kalau bilang siaga, saya pun sekarang sudah siaga 1. Senjata saya sudah dikokang. Saya berdiri di sini juga menganggap ada teroris," ujarnya. (utd)