"Kalau dari analisis kami bom itu mirip dengan yang ada di Cirebon dan Solo," ujarnya kepada CNNindonesia.com, Senin (18/1).
Badrodin mengatakan bom Cirebon yang dimaksud adalah bom bunuh diri pada 2011 silam. Menurutnya, kedua peristiwa sama-sama diakibatkan bom berdaya ledak rendah berbahan Potasium Nitrat dan Sulfur.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Persoalannya sekarang yang eksis ISIS. JI kan sudah tidak aktif," kata Badrodin.
"Nah di bawahnya (anak buahnya) satu sama lain kan bisa bertukar (antar jaringan). Tergantung siapa yang pimpin, cuma tergantung siapa yang menggerakkan," kata Badrodin.
Bahkan, Sunakim alias Afif yang menjadi salah satu pelaku di Thamrin pun, menurut Badrodin, bukan anggota ISIS. Hanya saja, dia tidak menyebutkan afiliasinya.
“Tiga bulan lalu Afif bikin status. Mengekpresikan kebencian terhadap polisi. Besar kemungkinan teror di Thamrin inisiatif Afif sendiri,” kata Jibriel kepada CNN Indonesia.com.
Dari perbincangan dengan teman-teman yang mengikuti kasus teror di Thamrin, Jibriel menduga garis komando besar kemungkinan bukan ada pada Bahrun Naim.
Pria yang yang diduga menjadi otak perencanaan teror tersebut memang pernah masuk ke dalam kelompok Aman Abdurahman yang diklaim sebagai amir Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) Asia Tenggara. Namun, setelah berbeda pandangan Bahrun memilih keluar dari kelompok tersebut. (bag)