Pengakuan tersebut disampaikan saat Fahmi bersaksi untuk Alex pada sidang perkara UPS di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta yang digelar hari ini.
Dalam kesaksiannya, Fahmi mengaku sempat menerima amplop dari Alex antara Mei-Juni 2014 silam. Amplop tersebut dikatakannya berisi usulan kebutuhan sekolah di wilayah Jakarta Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah amplop tersebut diserahkan di raker Komisi E, Fahmi mengaku tidak mengetahui keberlanjutan usulan kebutuhan sekolah yang ada di dalamnya. Dia juga tidak tahu apakah usulan pengadaan UPS ada di amplop tersebut atau tidak.
Politisi Hanura itu juga mengaku tak tahu mengenai asal kemunculan pengadaan UPS dalam APBD Perubahan DKI Jakarta periode 2014.
Menurut Fahmi, pembahasan APBD-P di DPRD selesai hingga rapat paripurna berlangsung. Setelah itu, draf RAPBD-P diserahkan ke Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) atau Gubernur untuk ditandatangani.
Kemudian, draf yang sudah ditandatangani dibawa ke Departemen Dalam Negeri untuk dievaluasi sebelum disahkan menjadi APBD-P resmi.
"TAPD diketuai oleh Sekda. Ada memang usulan eksekutif untuk APBD-P, tapi tidak mungkin diterima 100 persen. Nah, pokok pikiran (pokir) adanya di APBD, bukan APBD-P," ujarnya.
Selain Fahmi, saksi lain yang ikut bersidang hari ini untuk Alex adalah Abraham 'Lulung' Lunggana, Ferial Sofyan, dan Muhammad Firmansyah.
Fahmi dan Firmansyah adalah dua tersangka perkara UPS yang sudah ditentukan selain Alex. Selain ketiga orang tersebut, ada Zaenal Soleman, pejabat pembuat komitmen dari Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat, yang juga menjadi tersangka perkara tersebut.
(meg)