Pak Goer, demikian ia sering disapa, saat itu masih berusia 12 tahun. Bersama teman sepermainannya, Goer kecil hanya hanya melihat puluhan orang mendatangi bangunan dengan ciri khas empat pilar besar itu.
“Mereka bawa mobil dan bendi,” kata Goerjama. Tak ada yang mencolok dari pakaian yang mereka kenakan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Foto Loji Sint Jan di Bandung saat masih berdiri. Foto diambil dari buku Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. (CNN Indonesia/Suriyanto) |
Sebutan rumah setan diakui Pak Goer, memang desas-desus warga Kota Bandung. Julukan tersebut membuat siapapun yang bukan anggota perkumpulan itu segan atau bahkan takut mendekat.
Selain anggotanya memang para meneer Belanda, gerbang masuk gedung tersebut juga dijaga para centeng. “Mana berani kami mendekat,” kata Pak Goer.
Kejayaan logi tersebut berakhir seiring dengan datangnya Jepang ke Indonesia. Pada Perang Dunia Kedua saat itu, bersama Jerman, Jepang memang sangat memusuhi perkumpulan Freemason.
Mendengar Jepang menang perang di Pasifik dan bakal masuk Hindia Belanda, aktivitas loji dihentikan. Buku-buku yang ada di gedung tersebut dibawa keluar dan dijual ke tukang buku bekas.
Lihat juga:Napak Tilas Loji Freemasonry di Batavia |
Perayaan hari Sint Jan di Loji Mataram pada tahun 1934. Gelas diangkat untuk menghormati dan memohon berkat bagi Sultan Yogyakarta, "kepadanya perkumpulan Loji Mataram banyak berhutang budi." (Dok. Theo Stevens) |
Era pendudukan Jepang ini jadi era kelam perkumpulan Freemason. Buku-buku yang mencatat perkumpulan ini sangat minim sekali. Salah seorang rekan Pak Goer ada yang menemukan buku soal Freemason dari Loji Sint Jan.
Saat itu Pak Goer tinggal di Yogyakarta karena dibuang oleh Jepang. Iseng membaca buku Freemason itu, teman Pak Goer mengajaknya untuk mempraktikkan isi buku tersebut. Saat itu mereka menempati bekas benteng di kawasan Ambarukmo.
Bersama dua orang teman lainnya, ketiga merancang sebuah media pemanggil arwah berupa tongkat yang dibentuk menyilang. Pak Goer dan tiga orang temannya memegang keempat ujung tongkat tersebut.
Mantra dalam buku tersebut dibaca dengan beberapa bahasa seperti bahasa Indonesia, Jawa, Arab dan Belanda. Tak ada respons pada media tongkat yang mereka pegang saat mantra dibaca menggunakan bahasa Indonesia, Jawa dan Arab.
Namun saat Pak Goer membaca menggunaka bahasa Belanda, tongkat yang mereka pegang mendadak berat. “Seperti ada yang duduk di atasnya,” ujarnya. Dari informasi yang mereka terima, di benteng itu ada makam seorang Belanda, bekas pengurus kuda Sultan Yogyakarta.
Setelah kejadian itu, Pak Goer makin yakin, bahwa perkumpulan Vrijmetselarij di Loji Sint Jan selama ini memang melakukan ritual pemanggilan arwah.
Kini rumah setan tersebut tak lagi berbekas. Gedung lamanya sudah diruntuhkan dan kini dibangun masjid besar di atasnya, Masjid Al Ukhuwah yang jadi Masjid Raya Kota Bandung.
Sebelum jadi masjid, bangunan loji Sint Jan, kata Pak Goer, pernah menjadi restoran sunda, gedung pramuka dan gedung resepsi pernikahan. (sur/sip)
Foto Loji Sint Jan di Bandung saat masih berdiri. Foto diambil dari buku Gedenkboek van de Vrijmetselarij in Nederlandsch Oost Indie 1767-1917. (CNN Indonesia/Suriyanto)
Perayaan hari Sint Jan di Loji Mataram pada tahun 1934. Gelas diangkat untuk menghormati dan memohon berkat bagi Sultan Yogyakarta, "kepadanya perkumpulan Loji Mataram banyak berhutang budi." (Dok. Theo Stevens)