Bekas anak buah Nazaruddin, Clara Mauren, menyampaikan hal itu saat memberikan kesaksian di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi. Ketika itu Clara bekerja di bagian pemasaran PT Anugrah Nusantara, perusahaan milik Nazarudin.
Clara mengaku pernah mengikuti rapat bersama Nazaruddin dan sejumlah direksi perusahaan di Rutan Cipinang. Mereka membahas mengenai perkembangan bisnis yang dijalankan perusahaan di bawah bendera PT Anugrah Nusantara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rapat yang diceritakan Clara berlangsung pada 2011, saat Nazaruddin baru ditahan terkait kasus korupsi Wisma Atlet. Sebelum rapat di Rutan Cipinang, Nazaruddin juga sempat menggelar pertemuan untuk membahas bisnisnya di Mako Brimob.
Nazaruddin memang giat mengawasi sejumlah proyek yang sedang ditangani. Saat masih menjadi buronan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dia juga mengatur bisnis dari luar negeri. Nazaruddin tetap memimpin rapat perusahaan meskipun melalui skype, sambungan komunikasi berbasis internet.
"Waktu itu Beliau (Nazaruddin) mau ke Kolombia. Tidak ada pelaporan (pekerjaan proyek) sih waktu saya hadir," kata Clara.
Bekas anak buah Nazaruddin, Yulius Usman, juga membenarkan kesaksian Clara. Yulius saat itu menjabat sebagai direktur utama PT Pacific Putra Metropolitan, anak perusahaan PT Anugrah Nusantara.
Yulius tidak mengetahui keberadaan Nazaruddin saat memimpin rapat via skype itu. "Saya nggak tahu waktu itu dia di Singapura apa Kolombia," tambah Yulius.
Dalam kasus ini, Nazaruddin didakwa menerima 19 lembar cek senilai Rp23,119 miliar dari PT Duta Graha Indah dan uang sebesar Rp17,250 miliar dari PT Nindya Karya. Uang itu sebagai imbalan (fee) lantaran Nazaruddin mengendalikan PT DGI dalam memperoleh sejumlah proyek pemerintah pada 2010. (pit)