“Ya itu lambang Tarekat Kemasonan yang pernah singgah di ibu kota Hindia Belanda, Batavia,” ujar Sam Ardi, seorang peneliti sejarah Tarekat Kemasonan saat ditemui CNN Indonesia di Malang, akhir Januari lalu. Nisan tanpa nama itu diketahui milik seorang serdadu persekutuan dagang Hindia Belanda, VOC.
Para pengurus pertama Loge Agung Indonesia. Foto diambil dari buku "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962", yang ditulis TH Stevens. (Dok. Dr. Th. Stevens/Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia dan Indonesia 1764-1962) |
“Banyak hal yang dilakukan perhimpunan itu sedari dulu, mulai dari kegiatan amal hingga membuka perpustakaan dan sekolah dari Batavia hingga berkembang ke seluruh Nusantara,” ujar Ryzki Wiryawan, penulis buku “Okultisme di Bandung Dulu: Menelusuri Jejak Gerakan Teosofi dan Freemansory di Bandung” saat ditemui CNNIndonesia.com, Januari lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah itu, organisasi yang dicap penuh rahasia ini berkembang hingga menyentuh para pribumi. Pelukis Mestro Indonesia, Raden Saleh salah satunya. Masih menurut catatan Stevens terungkap pada Raden Saleh dilantik menjadi anggota Tarekat Kemasonan di Loji Bersatu Kita Kuat (Eendracht Maakt Macht) yang berada di Den Haag, Belanda.
Kemudian, di mana saja di Indonesia Freemasonry berkembang? Berdasarkan penelusuran CNN Indonesia, setidaknya 27 loji -sebutan bangunan tempat perhimpunan rahasia itu beraktivitas- pernah berdiri. Membentang sedari Banda Aceh hingga Makassar.
Lihat juga:Napak Tilas Loji Freemasonry di Batavia |
Pada masa jayanya, tarekat kemasonan di Hindia Belanda memiliki 1500 anggota yang terbagi dalam 25 bentara. Namun, sejak awal abad ke-20 angka tersebut terus menurun seiring melemahnya pengaruh pemerintah kolonial di Hindia Belanda. Pascaproklamasi kemerdekaan Indonesia, Loge Agung Provinsial Hindia Belanda mulai goyah.
Stevens menulis, awal dekade 1950-an, anggota tarekat bernama Liem Bwan Tjie yang belakangan dikenal sebagai pelopor arsitektur modern Indonesia, menulis laporan tentang perkumpulan kemasonan di bawah nama Purwa-Daksina. Sejak saat itu, pribumi berbondong-bondong masuk dan dilantik menjadi anggota perkumpulan rahasia yang dikhususkan untuk para lelaki ini.
Pengurus, anggota dan undangan Loji Soerajodal (Lembah Serayu). Loji ini berdiri Purwokerta dan anggotanya banyak yang berkebangsaan Indonesia. Duduk di paling kiri, R.A.S Soemitro Kolopaking yang nantinya akan menjadi Suhu Agung Pertama dari Loge Agung Indonesia. Foto diambil tahun 1933. (Dok Theo Stevens) |
Berselang 38 tahun, keputusan itu dicabut. Presiden Abdurahman Wahid melalui Keppres nomor 69 tahun 2000 membatalkan pelarangan terhadap organisasi-organisasi terlarang versi Soekarno. Namun khusus organisasi Freemasonry tak lagi ada dan menampakan diri.
Dalam peliputan khusus ini, CNN Indonesia mencoba menguak sedikit rahasia di balik organisasi. Soal siapa saja yang pernah berkecimpung dan meramaikan Kemasonan, apa saja yang mereka lakukan, bagaimana tanggapan miring soal organisasi rahasia ini, serta menapaki sisa-sisa sejarah ihwal pernah singgahnya organisasi Freemasonry di Indonesia. (sur)
Para pengurus pertama Loge Agung Indonesia. Foto diambil dari buku "Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962", yang ditulis TH Stevens. (Dok. Dr. Th. Stevens/Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia dan Indonesia 1764-1962)
Pengurus, anggota dan undangan Loji Soerajodal (Lembah Serayu). Loji ini berdiri Purwokerta dan anggotanya banyak yang berkebangsaan Indonesia. Duduk di paling kiri, R.A.S Soemitro Kolopaking yang nantinya akan menjadi Suhu Agung Pertama dari Loge Agung Indonesia. Foto diambil tahun 1933. (Dok Theo Stevens)