"Yang dicari ya dokumen terkait, terus klarifikasi antara korban yang sudah pernah di operasi di (RS) Cipto yang ginjalnya dijual itu," ujar Arie ketika dihubungi wartawan, Kamis (4/2).
Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, sejak sekitar pukul 10.33 WIB, sedikitnya sembilan penyidik Bareskrim Polri datang dengan dua unit mobil kepolisian. Kesembilan orang tersebut lantas memasuki pintu kaca depan RSCM Kencana menuju ke ruangan kantor.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"(Ruangan pertama yang dikunjungi) tadi itu ruang kerja. Kalau ke sana, ke ruang perawatan," kata Hery Yanto, seorang petugas keamanan di Lobi RSCM Kencana.
"Rumah sakitnya C, AW dan C di Jakarta semua," kata Kepala Bagian Analisis dan Evaluasi Komisaris Besar Hadi Ramdani di Markas Besar Polri, Jakarta, kemarin.
Menurut Hadi, penyidik sudah bekerjasama dengan pihak rumah sakit dan memeriksa dokter-dokternya. Berdasarkan pemeriksaan itu, polisi menyimpulkan tidak ada keterlibatan rumah sakit dalam kasus dugaan penjualan ginjal ini.
"Semua kami cek. Sementara karena itu untuk kesehatan, tidak ada kejanggalan. Mereka melakukan sesuai prosedur. Tidak ada dugaan (terlibat)," kata Hadi.
Hadi tak menutup kemungkinan ada penetapan tersangka baru dalam kasus ini. Saat ini penyidik masih memeriksa saksi-saksi untuk terus mendalami keterlibatan pihak lain.
Dari para tersangka, penyidik menyita sejumlah barang bukti seperti dua telepon genggam, satu buku tabungan, satu kartu debit dan satu kartu kredit, serta komputer dan dokumen-dokumen.
Kepala Subdirektorat III Tindak Pidana Umum Komisaris Besar Umar Fana mengatakan komputer tersebut diduga digunakan HR untuk membuat dokumen palsu untuk mendukung operasi transplantasi.
Penyidik masih menunggu hasil laboratorium forensik untuk memastikan dugaan tersebut. Umar enggan menyebut soal apakah pasal pemalsuan dokumen akan digunakan untuk menjerat tersangka.
"Itulah (kami) penyidik, tidak bisa berandai-andai. Semua harus berdasarkan data dan fakta yang ada," ujarnya kepada CNNIndonesia.com. (bag)