"Selasa kemarin (9/2) sudah dicek dan Rabu ini tes 'flight'. Semua kemampuan pesawat termasuk akrobatik juga dites di udara," kata Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal TNI Agus Supriatna, Kamis (11/2) superit dilaporkan Antara. Jatuhnya Super Tucano, kata dia, yang pertama kalinya.
Saat ini, kata Agus, tim identifikasi berusaha mengangkat badan pesawat yang masih terkubur di dalam tanah, dan mencari "video recorder" untuk mengevaluasi penyebab pasti jatuhnya pesawat itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Atas terjadinya insiden itu, KSAU melarang pesawat Super Tucano lain untuk tes flight demi keselamatan hingga semua masalah ditemukan.
Sementara itu, pengamat militer, Susaningtyas Kertopati berpendapat sistem perawatan pesawat milik TNI Angkatan Udara perlu dievaluasi mengingat seringnya kecelakaan pesawat milik matra udara tersebut.
Mantan anggota Komisi I DPR ini menyebutkan, pihak Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, dan Mabes TNI AU dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) serta Kementerian Keuangan harus satu suara dalam mereformasi kondisi yang kurang baik itu.
Dengan berulang kalinya kecelakaan pesawat TNI AU, maka perlu dilakukan audit dan investigasi secara holistik, profesional dan transparan agar bisa diketahui faktor penyebab secara pasti sehingga renstra pembangunan sistem alutsista pun dapat diperbaiki.
"Beberapa indikator pengukur harus dilidik secara teliti, misalnya, adanya 'human error', unsur sabotase, tekhnis maupun kondisi cuaca sebagai penyebab jatuhnya pesawat," kata Susaningtyas.
Dari sisi sumber daya manusia (SDM) dan juga program pelatihan harus ditingkatkan kualitasnya.
"Sebenarnya peningkatan kualitas bagi TNI itu bukan saja terletak pada alutsistanya, tetapi juga SDM-nya. Jadi, pendidikan dan latihan harus ditingkat, bukan hanya teknisi pesawat melainan juga pengawaknya. Sistem perawatan pesawat pun jug harus sesuai 'transfer of technology (TOT)'," kata Susaningtyas.
Untuk kasus Super Tucano ini, tambah dia, nampaknya harus punya atensi khusus karena sudah bukan hanya sekali, investigasi mungkin bisa melibatkan produsen atau teknisi khusus pesawat tersebut. (Antara)