Bejo (24) selama beberapa tahun bekerja di kafe di kawasan Kalijodo mendapat gaji yang rendah dengan jam kerja yang tidak normal setiap harinya.
“Kami bekerja dari malam hingga pagi hari, seperti vampir yang bila ada matahari malah tertidur. Capek kerja begini," kata Bejo saat ditemui CNNIndonesia, Selasa (16/2/2016).
Lihat juga:Cerita Remy Sylado Soal Asal Mula Kalijodo |
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, maraknya berita penggusuran Kalijodo beberapa hari belakangan, jumlah kunjungan tempat hiburan malam menjadi turun drastis.
Pengunjung yang berkurang ini membuat penghasilan Bejo menjadi minus. Selama ini, penghasilannya selain berasal dari honor pemilik kafe juga didapat dari tip pelanggan yang datang ke kafenya.
Pemilik kafe setiap harinya memberi honor kurang dari Rp100 ribu. Sedangkan tip dari pelanggan ini bervariasi.
"Tip dari satu kelompok tamu itu ya Rp5 ribu atau Rp10 ribu,” kata Bejo.
Jumlah penghasilannya itu, kata Bejo, tak cukup untuk biaya hidup di ibu kota. Untuk biaya kost saja dia mengeluarkan kocek Rp500 ribu tiap bulannya.
"Pas-pasan buat bayar kost sama makan saja," katanya. Meskipun mendapat penghasilan yang pas-pasan, pria asal Sukabumi, Jawa Barat ini memilih bertahan di Kalijodo. Hingga kini dia belum punya pilihan pekerjaan lain. Rencana Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang akan menggusur kawasan itu membuat Bejo gusar.
“Saya belum tahu mau ke mana apabila daerah ini digusur, mungkin akan pulang kampung,” kata Bejo.