Pendekatan yang selama ini dilakukan beberapa negara seperti Amerika Serikat, Perancis, dan Rusia yang kerap menggunakan serangan militer dalam memberangus ISIS di Suriah, menurut Luhut, tak pernah membuahkan hasil baik.
"Kami (pemerintah Indonesia) melihat penanganan militer selalu tidak berhasil. Kami menggunakan cara lunak dengan mengedepankan pendekatan agama dan budaya," kata Luhut saat menggelar pertemuan dengan jajaran Pemerintah Provinsi Banten di Serang, Senin (29/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kedamaian itu tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang dipakai di Timur Tengah sana," ujar Luhut.
"Peran alim ulama menjadi penting. Pejabat daerah harus bersatu memberikan penjelasan. Kami ingin negara ini aman dan pembangunan berjalan bagus," kata Luhut.
Tiga kelompok
Luhut memetakan aksi terorisme dan penyebaran paham radikalisme didukung oleh tiga kekuatan, yaitu kelompok ideolog, militan, dan simpatisan. Penanganan terhadap ketiganya dilakukan secara berbeda.
"Pencegahan radikalisme tidak bisa dilakukan oleh satu kementerian, tapi harus ada pendekatan agama, psikologi, pendidikan. Harus dilakukan bersama sehingga semua berjalan baik," kata Luhut.
"Yang penting bagi kami sawahnya sudah digarap atau belum. Kalau rakyat ketahanannya kuat, maka ide radikalisme susah berkembang. Kalau tidak, jangan aneh kalau radikalisme terus berkembang," ujar Romli.
Sejumlah organisasi keagamaan di Banten seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga berpatisipasi dalam pencegahan radikalisme. Namun persoalannya, kata Romli, mereka kekurangan dana.