Liputan Khusus

Jet Tempur, Proyek Canggih Lintas Negara

Anggi Kusumadewi, Resty Armenia, CNN Indonesia | Rabu, 02/03/2016 15:51 WIB
Jet Tempur, Proyek Canggih Lintas Negara Jet siluman F-35 Lighting II dikembangkan Amerika Serikat bersama Inggris, Australia, Italia, Kanada, Norwegia, Denmark, Belanda, dan Turki. Teknologi pesawat tempur yang kian canggih membuatnya sulit dibuat sendiri oleh satu negara. (REUTERS/Gary Cameron)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Dalam dunia pertahanan, senjata makin lama kian canggih. Teknologi pesawat tempur yang kompleks termasuk yang paling tinggi dan ditakuti. Untuk membuatnya, ada tendensi tidak bisa bekerja sendiri.”
 
Andi Alisjahbana, Direktur Teknologi dan Pengembangan PT Dirgantara Indonesia, bercerita soal seluk-beluk industri pesawat tempur dunia dalam perbincangannya dengan CNNIndonesia.com, Jumat (19/2). (Simak Fokus: JET SILUMAN 'BUATAN' INDONESIA)
 
Program dan teknologi yang sangat kompleks dalam pesawat tempur membuat satu negara akan kesulitan mengembangkan proyek canggih itu sendirian, kecuali negara adidaya macam AS dan Rusia.
Jet tempur masa kini, ujar Andi, jangan dibandingkan dengan pesawat tempur pada masa Perang Dunia II. “Dulu pesawat kan sederhana dan bertempur itu kelihatan mata. Sekarang bertempur tidak lagi mesti kelihatan mata. Beyond visual.”
 
Pesawat tempur bisa saja terlibat tembak-menembak tanpa terlihat. “Misal waktu dulu di Irak tembak-menembak rudal. Yang menembak ada di mana, yang ditembak di mana, orang kan tidak tahu,” kata Andi.
 
Artinya, jarak pertempuran sudah begitu jauh, menandakan persenjataan yang dipakai sarat teknologi. Teknologi ini dijaga oleh masing-masing negara yang memiliki kunci menuju pengetahuan itu, namun sulit untuk mewujudkannya sendirian.
 
Andi mencontohkan, pesawat tempur generasi keempat Eurofighter Typhoon dikembangkan oleh konsorsium dari empat negara Eropa, yakni British Aerospace EAP Airbus Group, dan Alenia Aermacchi yang merupakan perusahaan cabang Finmeccanica –pemain global asal Italia di bidang dirgantara, pertahanan, dan keamanan. Maka pembuatan Eurofighter Typhoon melibatkan Inggris, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Eurofighter Typhoon dikembangkan oleh konsorsium Eropa yang terdiri dari empat negara (en.wikipedia.org/U.S. Air Force photo by Chief Master Sgt. Gary Emery)
Jet siluman generasi lima F-35 Lighting II buatan Amerika Serikat bahkan sesungguhnya dikembangkan AS bersama Inggris, Australia, Italia, Kanada, Norwegia, Denmark, Belanda, dan Turki. Konsorsium pembuat F-35 yang dipimpin Lockheed Martin AS antara lain bermitra dengan BAE Systems Inggris.

Pun pesawat tempur generasi empat JAS 39 Gripen buatan Saab Swedia dikembangkan dengan teknologi AS. Tak kurang dari 50 persen teknologi Gripen berasal dari AS.
Itu belum termasuk pesawat tempur ringan T-50 Golden Eagle yang dikembangkan bersama Lockheed Martin AS menggunakan teknologi F-16 Fighting Falcon.
 
Ada pula jet generasi keempat JF-17 Thunder yang dikembangkan China bersama Pakistan, yakni Chengdu Aircraft Corporation dan Pakistan Aeronautical Complex.
 
Deretan kerja sama lintas negara tersebut menunjukkan sungguh sedikit proyek pesawat tempur di dunia ini yang benar-benar menggunakan teknologi asli dari satu negara.
 
Di luar urusan teknologi yang rumit, banyak negara tidak memiliki anggaran cukup dan infrastruktur memadai untuk mengembangkan berbagai komponen inti jet tempur.
Jika pun ada negara yang mencoba mengembangkan pesawat tempur sendirian, maka butuh waktu cukup panjang dan jatuh-bangun untuk merampungkannya.
 
“India mungkin sudah 14 tahun mencoba sendirian, tapi sampai sekarang belum selesai-selesai,” kata Andi.
 
Tejas, pesawat tempur ringan India yang pengembangannya dimulai 1983, diperkenalkan ke publik internasional 30 tahun kemudian, 2015. Namun Tejas dikritik karena dianggap memiliki performa tak memuaskan dengan mayoritas sistem senjata, termasuk radar, berasal dari hasil impor.
 
Oleh sebab itu banyak negara berpikir realistis dan menggandeng mitra untuk mengembangkan jet tempur. Pemilihan mitra ini tak lepas dari aspek politis. Hal itu misalnya terlihat dalam pengembangan F-35 Lighting II.
 
“Kenapa Amerika mengajak Inggris dan Australia untuk mengembangkan F-35? Karena mereka sama-sama anggota (aliansi militer) NATO, sudah erat sekali hubungan pertahanannya,” ujar Andi.
 
Pengguna F-35 pun negara-negara yang memiliki kesepakatan pertahanan dengan AS.
 
Memilih mitra juga dilakukan Korea Selatan dalam mengembangkan proyek pesawat tempur generasi 4,5 mereka. Korsel akhirnya bermitra dengan Indonesia, dan kedua negara kini telah memasuki fase pembuatan prototipe Korea Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment (KF-X/IF-X).
 
Korea Selatan mesti mempertimbangkan berbagai faktor, misal tak mungkin mengajak negara yang punya banyak uang namun tak memiliki sejarah dan kemampuan membuat pesawat. Pilihan pun jatuh kepada Indonesia, yang meski pendanaannya terbatas, punya rekam jejak membuat pesawat lewat PT Dirgantara Indonesia.
Korea Selatan dan Indonesia mematok target KF-X/IF-X telah mengudara pada 2025. Bagaimana akhirnya perjalanan kedua negara dan sejauh mana kemampuan RI-Korsel mengembangkan jet tempur, akan terlihat satu dekade ke depan.


[Gambas:Video CNN] (agk/sip)