Ini lantaran gempa yang terasa pukul 19:49:41 WIB itu, terjadi akibat pergeseran dasar laut dengan arah horisontal, bukan vertikal, yang umum mengakibatkan tsunami.
"Gempa bumi ini terjadi di lempeng oseanic, dengan mekanisme sesar geser, dan magnituda 7,8 SR (sebelumnya dilaporkan 8,3 SR). Gempa bumi ini kemungkinan tidak akan menghasilkan gelombang tsunami dikarenakan pergeseran dasar laut yang terjadi memiliki arah horisontal, bukan vertikal, sehingga kecil kemungkinannya mengakibatkan tsunami," ujar Surono melalui pesan singkatnya, Rabu (2/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia mengungkapkan, Investigator Fracture Zone (IFZ) ini hampir sejajar dengan Ninetyeast Ridge yang merupakan jejak perjalanan Kerak India ke arah Utara.
Sebelumnya, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan gempa yang cukup terasa kuat di wilayah Sumatera Barat berpotensi tsunami.
"Gempa terjadi pukul 19:49:41 WIB, lokasi: 5.16 LS,94.05 BT, pada 2 Maret 2016. Potensi Tsunami," kata Kepala Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho kepada CNNIndonesia.com.
Dari pemutakhiran informasi yang diperoleh BNPB, peringatan dini tsunami telah dikeluarkan di Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam, dan Lampung.
Hasil pemutakhiran BNPB, gempa terjadi 19:49:47 WIB, dengan koordinat 4.92 LS, 94.39 BT, kedalaman 10 kilometer dengan magnitudo 7,8 SR. (les/les)