Sekretaris Jenderal KPI, Dian Kartikasari menyatakan formulasi kemiskinan yang menggunakan pendekatan pendapatan dan pengeluaran per hari dianggap sangat bias dan tidak menangkap kemiskinan secara multi dimensional. Jika formulasi penghitungan kemiskinan tidak diubah, ia mengatakan pemerintah seolah abai terhadap kondisi yang terjadi sebenarnya.
"Kalau kemiskinan dilihat secara pendapatan saja penilaiannya bisa jadi sangat bagus sekali seolah-olah kemiskinan kita jadi berkurang. Padahal kemiskinan itu bukan sekedar pendapatan, tapi masalah kesejahteraan juga terdapat di dalamnya," ujar Dian di Jakarta, Minggu (6/3).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Diakui olehnya, semakin banyak indikator penyusun angka kemiskinan maka akan semakin rumit penghitungannya. Namun menurutnya, hal itu tak menjadi masalah karena penghitungannya bisa lebih komprehensif.
"Kalau datanya tidak benar, maka kita tidak tahu apa yang seharusnya perlu dibenahi. Contoh nyatanya adalah Dana Pengentasan Kemiskinan yang nilainya selalu meningkat antar tahun. Tapi buktinya apa? Angka kemiskinan tidak menunjukkan penurunan yang signifikan," jelasnya.
Hingga saat ini, pihaknya telah beberapa kali mengajukan audiensi dengan pemerintah terkait hal tersebut. Namun menurutnya, sampai sekarang belum ada hasil yang nyata.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), angka kemiskinan Indonesia per Maret 2015 tercatat sebesar 28,59 juta jiwa atau meningkat dibandingkan jumlah penduduk miskin per September 2014 dengan jumlah 27,73 juta jiwa. Angka tersebut mengambil porsi 11,12 persen dari jumlah penduduk Indonesia per Maret 2015. (yul)